TEKNOBUZZ – IBM resmi mengumumkan IBM Sovereign Core, perangkat lunak pertama di industri yang dirancang untuk mendukung penerapan AI berdaulat bagi perusahaan, instansi pemerintah, dan penyedia layanan TI. Diperkenalkan pada 2 Februari 2026, solusi ini ditujukan untuk membantu organisasi membangun, menerapkan, dan mengelola sistem TI yang aman, patuh regulasi, serta sepenuhnya berada di bawah kendali mereka sendiri.
Seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan, tuntutan terhadap kedaulatan digital juga semakin kuat. Kedaulatan digital tidak hanya mencakup lokasi penyimpanan data, tetapi juga siapa yang mengoperasikan sistem, bagaimana data dikelola, serta di bawah yurisdiksi mana beban kerja dan model AI dijalankan. Namun, banyak organisasi belum memiliki platform terintegrasi untuk mengelola kebutuhan tersebut secara komprehensif.
“Di kawasan ASEAN, organisasi menghadapi tekanan besar untuk mengembangkan AI sambil tetap mematuhi regulasi dan kedaulatan data yang kompleks. IBM Sovereign Core memungkinkan organisasi meningkatkan inisiatif AI dengan lebih percaya diri, tanpa mengorbankan kepatuhan dan otonomi operasional,” ujar Catherine Lian, General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN.
IBM Sovereign Core dibangun dengan fondasi open-source dari Red Hat dan menjadikan kedaulatan sebagai karakteristik inti perangkat lunak. Solusi ini memungkinkan control plane dioperasikan langsung oleh pelanggan, pengelolaan identitas dan kunci kriptografi tetap berada dalam yurisdiksi yang dipilih, serta menyediakan mekanisme kepatuhan berkelanjutan yang dapat diaudit. Selain itu, inferensi AI dapat dijalankan secara lokal tanpa memindahkan data ke pihak eksternal.
“Selama ini diskusi kedaulatan AI terlalu fokus pada data residency, padahal itu baru sebagian dari persoalan. IBM Sovereign Core menjawab isu mendasar tentang siapa yang mengendalikan sistem dan bagaimana kendali tersebut dapat dibuktikan kepada regulator,” kata Sanjeev Mohan, Principal, SanjMo.
IBM juga membuka fleksibilitas penerapan Sovereign Core, baik di pusat data on-premises, cloud dalam wilayah tertentu, maupun melalui mitra penyedia layanan TI. Kolaborasi awal dilakukan bersama Cegeka di Belgia dan Belanda serta Computacenter di Jerman.
“Solusi ini mempercepat time-to-value dan memungkinkan klien mengadopsi AI secara aman dan patuh regulasi,” ujar Christian Schreiner, Unit Director Cloud, Computacenter. Dengan langkah ini, IBM menegaskan komitmennya dalam mendukung kedaulatan digital dan adopsi AI yang tepercaya di tingkat global.
6


