28.3 C
New York
Friday, July 10, 2026

Buy now

Spektrum Upper 6 GHz Jadi Spektrum Seksi untuk Gelaran 6G di Indonesia

TEKNOBUZZ – Di balik wacana melompati generasi jaringan seluler, kementerian terkait dan industri telekomunikasi Indonesia saat ini sedang menaruh perhatian besar pada aset digital yang sangat berharga: pita frekuensi radio.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Indonesia dalam menyongsong era 6G bukan lagi sekadar urusan kesiapan infrastruktur di lapangan, melainkan ketersediaan “garasi” yang cukup luas untuk menampung masifnya trafik data masa depan.

Garasi besar yang kini menjadi primadona dan diperebutkan di tingkat global adalah spektrum Upper 6 GHz, khususnya pada rentang frekuensi 6.425 MHz hingga 7.125 MHz (6,4 – 7,1 GHz).

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio Komdigi, Adis Alifiawan, memberikan analogi sederhana mengenai evolusi generasi seluler ini. Jika jaringan 2G diibaratkan seperti sepeda motor, 4G seperti mobil kota (LCGC), dan 5G laksana mobil SUV, maka jaringan 6G adalah sebuah mobil Hummer raksasa.

“Jadi kalau kita mau punya mobil yang besar, garasinya mesti besar. Kalau kita mau memasukkan trafik 6G, kita harus punya spektrum itu sebagai garasinya,” kata Adis dalam Seminar dan Workshop Nasional Mastel di Jakarta.

Mengapa Spektrum Upper 6 GHz Begitu “Seksi”?

Untuk menggelar satu jaringan 6G yang optimal, satu operator seluler idealnya membutuhkan lebar pita (bandwidth) yang kontinu (contiguous) minimal sebesar 200 MHz hingga 400 MHz. Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan hasil lelang frekuensi menengah ritel saat ini (seperti pita 2,6 GHz yang bahkan tidak menyentuh 200 MHz untuk total seluruh wilayah penawaran.

Pita frekuensi Upper 6 GHz dinilai menjadi jawaban paling logis dan seksi bagi industri karena beberapa alasan krusial:

  • Satu-satunya Blok Mid-Band yang Tersisa: Frekuensi ini merupakan blok pita frekuensi menengah (mid-band) terbesar di dunia yang belum teralokasi secara penuh untuk seluler komersial internasional (IMT – International Mobile Telecommunications).
  • Kombinasi Sempurna antara Kapasitas dan Jangkauan: Jaringan seluler masa depan membutuhkan keseimbangan. Frekuensi tinggi (millimeter wave) memiliki kapasitas super cepat namun jangkauan sinyalnya sangat pendek dan mudah terhalang dinding. Sebaliknya, frekuensi rendah (low-band) jangkauannya luas namun kapasitas datanya sempit. Upper 6 GHz berada di titik tengah (sweet spot)—menawarkan kapasitas data raksasa sekaligus jangkauan yang masih ekonomis untuk wilayah perkotaan.
  • Fondasi Utama Teknologi AI Embanan: Komdigi menegaskan bahwa pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI) yang masif di masa depan—mulai dari pemrosesan komputasi awan real-time hingga komunikasi antar-perangkat cerdas tanpa jeda—sangat bergantung pada kapasitas uplink raksasa dan latensi super rendah yang hanya bisa disemburkan oleh spektrum seluas Upper 6 GHz.

Kementerian PPN/Bappenas juga menilai pemanfaatan spektrum 6 GHz ini secara makro akan bertindak sebagai akselerator ekonomi digital nasional untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam mempercepat implementasi otomasi Industri 4.0 dan efisiensi logistik.

Best Practice Penggunaan Spektrum Upper 6 GHz di Berbagai Negara

Arah kebijakan pengelolaan pita Upper 6 GHz di tingkat dunia sempat terbelah antara menjadikannya berlisensi komersial untuk seluler (IMT/Licensed Mobile) atau membebaskannya tanpa lisensi untuk memperkuat teknologi Wi-Fi (Unlicensed Wi-Fi/RLAN).

Namun, pasca-keputusan sidang regulasi radio dunia (WRC), gelombang adopsi Upper 6 GHz untuk jaringan seluler masa depan (5G-Advanced dan 6G) kian mendominasi global.

Berikut adalah potret best practice dari beberapa negara pionir dalam memanfaatkan spektrum seksi ini:

1. Uni Emirat Arab (UEA) – Alokasi Penuh Secara Agresif

UEA menjadi salah satu negara terdepan di wilayah Timur Tengah dan Afrika (EMEA) yang memperbarui Rencana Frekuensi Nasionalnya dengan menetapkan seluruh kapasitas blok Upper 6 GHz sebesar 600 \text{ MHz} untuk layanan seluler berlisensi.

Pemerintah UEA langsung membagi spektrum ini kepada dua operator utamanya, e& dan Du, masing-masing mendapatkan kanal raksasa sebesar 350 \text{ MHz}. Langkah agresif ini dirancang untuk memastikan operator lokal memiliki jaminan investasi jangka panjang dalam membangun fondasi awal konektivitas komersial 6G.

2. Hong Kong – Pelopor Lelang IMT Pertama Dunia

Hong Kong mencatatkan sejarah sebagai wilayah pertama di dunia yang berhasil mengeksekusi lelang komersial secara resmi untuk pita frekuensi Upper 6 GHz untuk kepentingan IMT. Pendekatan komersialisasi lewat lelang ini memberikan kepastian hukum yang sangat tinggi bagi operator seluler untuk mengoptimalkan jaringannya tanpa khawatir interferensi dari perangkat rumahan.

3. Brasil – Pemisahan Strategis dan Kombinasi VLP

Meskipun sebagian besar negara di benua Amerika mengikuti jejak Amerika Serikat (FCC) yang membuka seluruh frekuensi 6 GHz untuk Wi-Fi gratis, Brasil mengambil langkah berbeda yang sangat strategis. Badan regulasi Brasil (Anatel) resmi menetapkan area Upper 6 GHz (6.425 – 7.125 \text{ MHz}) khusus untuk layanan seluler komersial (IMT).

Menariknya, mereka juga mengizinkan aplikasi berdaya sangat rendah (Very-Low-Power atau VLP) untuk penggunaan dalam ruangan secara berdampingan, menciptakan harmoni pemanfaatan spektrum yang efisien.

4. China – Integrasi Ekosistem Seluler dan AI Global

China menjadi motor penggerak utama di Asia yang mendorong pemanfaatan penuh Upper 6 GHz untuk jaringan seluler. Pemerintah China mengintegrasikan spektrum ini langsung ke dalam peta jalan riset teknologi 6G nasional mereka, dengan fokus pada penguatan jaringan terintegrasi untuk mendukung industri manufaktur pintar dan sistem otonom berbasis AI berskala besar.

Langkah Indonesia Selanjutnya

Bagi Indonesia, menyusun cetak biru (roadmap) spektrum Upper 6 GHz berbasis best practice global ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat mendesak. Komdigi dan Mastel sepakat bahwa kajian tekno-ekonomi yang matang harus segera diselesaikan.

Tantangannya adalah merumuskan kebijakan alokasi yang tidak hanya berorientasi pada nilai pendapatan negara (PNBP) dari lelang frekuensi, melainkan fokus pada penciptaan ekosistem digital yang sehat, merata, dan siap ketika teknologi 6G global resmi digulirkan.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles