TEKNOBUZZ – Berdasarkan laporan terbaru dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Indonesia kini memegang tonggak sejarah sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, dengan proyeksi nilai barang dagangan bruto (Gross Merchandise Value/GMV) yang terus melesat hingga mencapai angka US$350 miliar pada tahun 2030. Pertumbuhan masif ini didukung oleh penetrasi internet yang telah menjangkau 80,66% total populasi nasional.
Sektor e-commerce tetap menjadi pendorong utama dengan proyeksi GMV mencapai Rp473 triliun pada tahun 2025. Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, tersimpan sebuah ironi besar.
Dyah Ayu, Peneliti Ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam acara Indonesia Digital Outlook 2026 yang digelar Teknobuzz ID dan media partner di Habitate, Jakarta beberapa waktu lalu, mengungkapkan bahwa Indonesia sedang mengalami fenomena paradoks ekonomi digital. Meskipun konsumsi data dan transaksi digital terus meningkat, fundamental inovasi bangsa justru masih tertatih di kancah global.
“Kita menghadapi fenomena paradoks, yaitu konsumsi data dan GMV digital meningkat pesat, namun Indonesia masih terhambat stagnasi inovasi. Indonesia saat ini hanya menduduki peringkat ke-55 dari 139 negara dalam Global Innovation Index (GII). Peringkat ini mencerminkan adanya hambatan serius dalam transformasi digital yang berkelanjutan di tanah air,” ujar Dyah.
Akar Masalah: Investasi Pendidikan dan R&D yang Minim
CELIOS mengidentifikasi bahwa hambatan inovasi ini berakar pada rendahnya dukungan terhadap modal manusia (human capital). Indonesia tercatat berada di peringkat 92 untuk kualitas SDM dan posisi 133 untuk investasi pendidikan terhadap PDB. Hal yang paling mencolok adalah alokasi anggaran Riset dan Pengembangan (R&D) Indonesia yang hanya sebesar 0,28% dari PDB.
Keterbatasan akses pendidikan berkualitas di sektor teknologi mengakibatkan fenomena “lost Einsteins,” di mana talenta lokal berbakat gagal terakselerasi karena kurangnya fasilitas dan dukungan riset. Defisit tenaga kerja terampil ini diperparah dengan lemahnya transfer teknologi dan minimnya kolaborasi riset antara dunia industri dan akademisi.
Menurut Dyah Ayu, pembahasan mengenai teknologi masa depan seperti Artificial Intelligence (AI) dan Smart City tidak akan relevan jika fondasi dasar tidak diperbaiki.
“Pembahasan mengenai AI dan Smart City akan kehilangan relevansinya jika fondasi konektivitas dan kualitas talenta digital tidak diperkuat,” ungkap Dyah.
Mengoptimalkan Potensi Digital untuk Masa Depan Bangsa
Meskipun tantangan menghadang, CELIOS memproyeksikan ekonomi digital tetap memiliki peran strategis bagi penerimaan negara. Sektor ini diperkirakan dapat menyumbang hingga 9-10% dari PDB nasional melalui optimalisasi pajak digital. Potensi penerimaan negara dari pajak perusahaan OTT saja diperkirakan dapat mencapai Rp29,5 triliun.
Selain kontribusi fiskal, sektor digital seperti fintech lending juga berperan penting dalam menutup celah kredit bagi masyarakat yang belum tersentuh perbankan formal (unbanked). Namun, keberlanjutan sektor ini sangat bergantung pada keberanian pemerintah untuk melakukan reformasi regulasi yang mendukung iklim inovasi.
Tanpa adanya peningkatan signifikan dalam anggaran R&D dan perbaikan kualitas talenta digital, potensi besar ekonomi digital Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk global. Fokus utama ke depan haruslah pada penciptaan ekosistem yang tidak hanya konsumtif terhadap data, tetapi juga produktif dalam menghasilkan inovasi teknologi yang berdaya saing global.


