TEKNOBUZZ – Persaingan industri telekomunikasi Indonesia mulai memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun berkompetisi melalui kualitas jaringan, cakupan layanan, harga paket data, dan jumlah pelanggan, operator kini mulai memperluas arena persaingan ke bisnis infrastruktur digital, khususnya data center dan komputasi berbasis artificial intelligence (AI).
Perubahan strategi ini bukan tanpa alasan. Pertumbuhan konsumsi data, meningkatnya adopsi layanan cloud, serta kebutuhan komputasi untuk menjalankan berbagai aplikasi AI menciptakan peluang bisnis baru bagi perusahaan telekomunikasi.
Operator memiliki modal yang cukup strategis untuk masuk ke sektor tersebut. Selain memiliki jaringan fiber optik dan infrastruktur konektivitas, mereka juga mempunyai basis pelanggan korporasi, pengalaman mengelola jaringan berskala besar, serta kemampuan menyediakan layanan digital secara terintegrasi.
Perkembangan terbaru dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indosat Tbk memperlihatkan bagaimana peluang tersebut mulai diterjemahkan menjadi strategi bisnis.
Keduanya memang memiliki pendekatan berbeda, tetapi memperlihatkan arah yang relatif sama: memperkuat bisnis konektivitas sekaligus membangun sumber pendapatan baru dari infrastruktur digital dan layanan AI.
Data Center Mulai Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Salah satu indikasi paling menarik terlihat dari kinerja NeutraDC, bisnis data center milik TelkomGroup. Hingga September 2026, NeutraDC membukukan pendapatan Rp1,39 triliun atau tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tidak hanya pendapatan, EBITDA perusahaan juga meningkat 35% dengan margin EBITDA mencapai 40,9%.
Pertumbuhan tersebut didukung kontribusi fasilitas data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta komputasi berbasis AI melalui layanan Neutra Compute.
Pencapaian ini memperlihatkan bahwa bisnis data center mulai memberikan kontribusi finansial yang semakin terukur bagi TelkomGroup.
Secara keseluruhan, pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup mencapai Rp7,1 triliun, tumbuh 5,5% YoY. Segmen ini mencakup layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur.
Telkom juga memiliki ambisi memperbesar skala bisnis NeutraDC. Perusahaan menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW).
Untuk mendukung ekspansi tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, dan pendanaan.
Langkah ini menunjukkan bahwa data center tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai fasilitas pendukung jaringan telekomunikasi, tetapi mulai dikembangkan sebagai lini bisnis yang memiliki potensi komersial tersendiri.
Indosat Mulai Memetik Pendapatan dari AI Cloud
Arah serupa terlihat dari strategi Indosat Ooredoo Hutchison. Dalam laporan kinerja sembilan bulan pertama 2026, Indosat mengumumkan bahwa pendapatan solusi Indosat AI Cloud telah mencapai US$50 juta. Angka tersebut bahkan melampaui pendapatan US$28 juta yang dibukukan sepanjang 2025.
Indosat memperkirakan pendapatan AI Cloud dapat mencapai US$100 juta hingga akhir 2026. Pencapaian ini menarik karena memperlihatkan bahwa investasi teknologi AI mulai menghasilkan kontribusi komersial, bukan hanya menjadi bagian dari agenda transformasi digital perusahaan.
Indosat bahkan tengah membangun ekosistem AI full-stack yang mengintegrasikan konektivitas, infrastruktur fiber, pusat data, kapasitas komputasi, model AI, hingga aplikasi enterprise.
Strategi tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur dan solusi AI, baik di pasar domestik maupun global.
Untuk memperkuat ekosistemnya, Indosat mengembangkan beberapa kapabilitas infrastruktur. Salah satunya melalui RAIA Grid yang memiliki jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer. Infrastruktur ini berperan menghubungkan sumber daya komputasi dengan berbagai kebutuhan penerapan AI.
Indosat juga mengembangkan Zankore by Indosat sebagai infrastruktur AI generasi berikutnya, dengan ambisi jangka panjang mencapai kapasitas AI hingga 1 GW.
Selain membangun infrastruktur, Indosat mulai bergerak ke lapisan layanan enterprise melalui Indosat Intelligence Suite yang dikembangkan bersama F5.
Solusi tersebut memberikan akses terkelola bagi pelanggan korporasi terhadap model dan infrastruktur AI melalui satu lapisan terintegrasi, termasuk untuk membantu mengelola penggunaan AI dan mengendalikan biaya.
Dengan strategi tersebut, Indosat tidak hanya ingin menyediakan infrastruktur komputasi, tetapi juga mengambil bagian dalam monetisasi penggunaan AI oleh perusahaan.
Konektivitas Tetap Menjadi Fondasi
Meski mulai agresif mengembangkan bisnis data center dan AI, kedua operator masih mengandalkan bisnis telekomunikasi sebagai fondasi utama.
Hal ini terlihat dari kinerja Indosat sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perusahaan mencatat pendapatan Rp45,8 triliun, meningkat 11% YoY. EBITDA mencapai Rp21,1 triliun, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 37,2% menjadi Rp4,9 triliun.
Bisnis seluler masih menjadi bagian penting dari pertumbuhan tersebut. ARPU gabungan meningkat 16,5% menjadi Rp46.000, sejalan dengan kenaikan trafik data sebesar 16% menjadi 14.829 petabyte.
Indosat menyebut strategi hyper-personalization berbasis AI, peningkatan kualitas jaringan, pemanfaatan spektrum, dan pengembangan kapabilitas 5G menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan bisnis inti.
Sementara itu, TelkomGroup mencatat pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun hingga September 2026, tumbuh 3,5% YoY. Bisnis Data, Internet & IT Services menjadi salah satu kontributor utama dengan pendapatan Rp71,5 triliun, meningkat 8,3%.
Gambaran tersebut memperlihatkan hubungan erat antara bisnis konektivitas dan infrastruktur digital.
Semakin tinggi kebutuhan masyarakat dan perusahaan terhadap layanan digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap jaringan, pusat data, kapasitas komputasi, dan layanan cloud.
Dengan demikian, bisnis telekomunikasi dan data center bukanlah dua sektor yang sepenuhnya terpisah. Keduanya dapat saling memperkuat dalam membangun ekosistem digital yang lebih luas.
Persaingan Bergeser ke Penguasaan Infrastruktur Digital
Perubahan strategi Telkom dan Indosat juga menunjukkan bahwa persaingan operator ke depan berpotensi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pelanggan seluler atau luas cakupan jaringan.
Penguasaan infrastruktur digital akan menjadi salah satu faktor penting. Dalam ekosistem AI, data center membutuhkan dukungan jaringan fiber berkapasitas tinggi, pasokan listrik yang andal, sistem pendinginan, serta kapasitas komputasi yang memadai.
Artinya, operator memiliki peluang untuk mengoptimalkan aset jaringan yang sudah dimiliki sekaligus memperluas bisnis ke layanan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Telkom, misalnya, tengah menjalankan transformasi TLKM 30 melalui penataan portofolio dan penguatan bisnis inti. Salah satu langkah pentingnya adalah penyelesaian spin-off aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui langkah tersebut, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model carrier-neutral dan open-access.
Model ini memungkinkan infrastruktur dimanfaatkan secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
Di sisi lain, Indosat mengembangkan ekosistem AI yang menggabungkan infrastruktur, kapasitas komputasi, dan solusi enterprise. Pendekatan ini memperlihatkan upaya perusahaan untuk bergerak lebih jauh dari sekadar penyedia konektivitas.
Keduanya memperlihatkan bahwa operator mulai mencari posisi yang lebih strategis dalam rantai nilai ekonomi digital.
Tantangan Besar: Investasi, Energi, dan Monetisasi
Meski peluangnya menjanjikan, bisnis data center dan AI bukan sektor yang mudah dimasuki. Pengembangan data center membutuhkan investasi besar, mulai dari pembangunan fasilitas, pengadaan server dan perangkat komputasi, sistem pendinginan, hingga penyediaan energi listrik.
Kebutuhan komputasi AI bahkan membuat tantangan tersebut semakin kompleks karena penggunaan GPU dan infrastruktur berperforma tinggi membutuhkan kapasitas daya yang besar.
Selain itu, ekspansi kapasitas tidak otomatis menghasilkan pendapatan dan keuntungan. Operator harus mampu memastikan tingkat utilisasi fasilitas, memperoleh pelanggan jangka panjang, menjaga efisiensi operasional, dan menawarkan harga layanan yang kompetitif.
Aspek kemitraan juga menjadi penting. Pengembangan data center berskala besar membutuhkan kolaborasi antara operator, investor, penyedia teknologi, pengelola energi, hingga perusahaan hyperscaler.
Karena itu, keberhasilan strategi data center tidak cukup diukur dari seberapa besar kapasitas yang diumumkan, tetapi juga dari kemampuan mengubah kapasitas tersebut menjadi pendapatan dan keuntungan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, pencapaian NeutraDC dan Indosat AI Cloud menjadi indikator awal yang menarik untuk dicermati. Keduanya sudah memperlihatkan kontribusi komersial, meskipun skala dan indikator bisnis yang dilaporkan berbeda.
Era Baru Bisnis Operator Telekomunikasi
Pergerakan Telkom dan Indosat memperlihatkan perubahan orientasi industri telekomunikasi Indonesia. Konektivitas tetap menjadi fondasi, tetapi peluang pertumbuhan mulai meluas ke data center, cloud, AI computing, dan solusi digital untuk perusahaan.
Ke depan, persaingan operator berpotensi berlangsung dalam tiga lapisan sekaligus. Pertama, persaingan konektivitas melalui jaringan seluler dan broadband. Kedua, persaingan infrastruktur melalui fiber optic, data center, dan kapasitas komputasi. Ketiga, persaingan monetisasi melalui layanan cloud, AI, dan solusi digital enterprise.
Operator yang mampu mengintegrasikan ketiganya memiliki peluang untuk membangun sumber pendapatan yang lebih beragam.
Namun, transformasi tersebut juga menuntut perubahan cara perusahaan mengelola investasi, mengembangkan kemitraan, dan menciptakan nilai dari aset yang dimiliki.
Satu hal yang mulai terlihat jelas: masa depan bisnis operator telekomunikasi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak pelanggan yang terhubung ke jaringan mereka, tetapi juga oleh seberapa besar peran mereka dalam menyediakan infrastruktur yang menggerakkan ekonomi digital.
Persaingan industri telekomunikasi Indonesia kini mulai bergerak ke arena yang lebih luas: bukan hanya menghubungkan masyarakat ke internet, tetapi juga menyediakan infrastruktur untuk menjalankan era AI.


