5.9 C
New York
Monday, November 2, 2026

Buy now

Pendapatan TelkomGroup Tembus Rp113,5 Triliun, Bisnis Data dan Infrastruktur Digital Jadi Pendorong

TEKNOBUZZ – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kontribusi bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pendapatan konsolidasi.

Hingga akhir September 2026, bisnis Data, Internet & IT Services menghasilkan pendapatan Rp71,5 triliun atau meningkat 8,3% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pelaku industri terhadap konektivitas serta layanan digital.

Dari sisi profitabilitas, TelkomGroup mencatatkan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun, tumbuh 2% YoY dengan margin EBITDA 48,9%. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7%.

Adapun laba bersih normalisasi mencapai Rp16,5 triliun, meningkat 3,9% YoY dengan margin 14,6%.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perseroan terus menjalankan arah strategis TLKM 30 dengan fokus pada penguatan bisnis inti dan pelaksanaan transformasi yang memberikan manfaat jangka panjang.

Menurutnya, peningkatan konsumsi layanan data dan kebutuhan terhadap layanan digital yang semakin andal menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki.

Empat Segmen Bisnis Tumbuh Positif

Pertumbuhan TelkomGroup ditopang oleh empat segmen bisnis utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Segmen B2C yang mencakup bisnis mobile dan fixed broadband membukukan pendapatan Rp81,6 triliun, meningkat 3,5% YoY.

Di bisnis seluler, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun atau tumbuh 1,8% YoY. Bisnis digital menjadi salah satu kontributor utama dengan pendapatan Rp60,7 triliun, meningkat 7,7% YoY.

Strategi monetisasi layanan seluler juga menunjukkan perkembangan. Average Revenue Per User (ARPU) Telkomsel meningkat 7,1% menjadi Rp45.400, disertai kenaikan data yield sebesar 6,5%.

Sementara itu, bisnis IndiHome mencatatkan pendapatan Rp19,1 triliun. Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan meningkat 1,2% secara kuartalan menjadi 9,63 juta, dengan ARPU naik 3,2% menjadi Rp217.700.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp7,1 triliun atau tumbuh 5,5% YoY. Pertumbuhan didukung layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur TelkomGroup.

Salah satu perkembangan menarik datang dari NeutraDC. Bisnis data center tersebut mencatatkan pendapatan Rp1,39 triliun hingga September 2026, meningkat 17% YoY. EBITDA NeutraDC bahkan tumbuh 35% dengan margin EBITDA mencapai 40,9%.

Pertumbuhan ini didukung kontribusi fasilitas data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta komputasi berbasis AI melalui layanan Neutra Compute.

Untuk mengantisipasi permintaan pasar, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). TelkomGroup juga tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, dan pendanaan.

Bisnis SME dan Konektivitas Internasional Ikut Menguat

Segmen B2B ICT mencatatkan pendapatan Rp11,2 triliun, tumbuh 3,1% YoY. Bisnis Small Medium Enterprises (SME) menjadi salah satu penggerak utama dengan pendapatan Rp3,3 triliun, meningkat 10,2%.

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan jumlah pelanggan Indibiz sebesar 10,9% menjadi 771,1 ribu pelanggan. Sementara bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution tumbuh 6,2% pada periode yang sama.

Di segmen International, pendapatan mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 5,8% YoY. Salah satu pencapaian yang menonjol adalah pertumbuhan pendapatan jaringan sebesar 50,2% menjadi Rp1,37 triliun.

Penguatan konektivitas internasional dilakukan melalui pengembangan jaringan kabel laut. Salah satunya proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026. Sementara proyek INSICA ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.

Pengembangan infrastruktur tersebut turut mendukung posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.

Percepat Transformasi TLKM 30

Di tengah pengembangan bisnis digital dan infrastruktur, TelkomGroup juga melanjutkan transformasi melalui inisiatif TLKM 30 yang mencakup empat pilar, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.

Hingga kuartal III 2026, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas yang terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.

Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8%. Sebanyak 94,3% capex dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperluas kapabilitas konektivitas digital.

Salah satu tonggak transformasi adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. Melalui langkah ini, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis carrier-neutral dan open-access.

Model tersebut diharapkan memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.

Melalui transformasi ini, TelkomGroup berupaya memperkuat fokus pada bisnis inti, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan nilai aset dan kapabilitas infrastruktur digital.

Dengan pertumbuhan pendapatan yang ditopang bisnis data, data center, SME, dan konektivitas internasional, perkembangan berikutnya akan menjadi ujian bagi TelkomGroup dalam menjaga momentum pertumbuhan sekaligus meningkatkan nilai bisnis secara berkelanjutan.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles