TEKNOBUZZ – Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 membekali 2.600 mahasiswa dan siswa terpilih melalui Workshop Design Thinking. Program tahun ini mendapat antusiasme tinggi dengan lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi di Indonesia.
Para peserta berasal dari berbagai SMA dan perguruan tinggi, termasuk SMA Negeri 1 Yogyakarta, SMA Kolese Gonzaga, SMA Negeri 10 Malang, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, dan Binus University. Melalui workshop ini, mereka dibimbing untuk memahami akar permasalahan sebelum mengembangkan solusi berbasis STEM dan AI.
Workshop terdiri atas empat sesi, yaitu Introduction & Empathize, Define & Ideate, Prototyping, dan Testing, masing-masing berdurasi 2,5 jam. Pembelajaran tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk menyusun concept paper dalam tiga tema utama—Sustainability & Environment, Education, serta Sport & Technology—sebelum melaju ke tahap semifinal dan pengembangan prototipe.
“Indonesia memiliki generasi muda dengan potensi yang luar biasa. Tantangan saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak ide, melainkan memastikan ide tersebut berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengubah potensi tersebut menjadi inovasi berbasis STEM dan AI yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.
Komitmen tersebut juga tercermin dari pilihan tema concept paper peserta. Sebanyak 47,83% peserta memilih Sustainability & Environment, menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu keberlanjutan. Fokus ini sejalan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita ke-8, yang mendorong pembangunan berkelanjutan serta pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan ketahanan bangsa.
Dalam Samsung SFT, proses Design Thinking menjadi sangat penting karena membantu peserta untuk tidak langsung melompat ke solusi, melainkan terlebih dahulu memahami konteks permasalahan secara menyeluruh, termasuk siapa yang terdampak, apa kebutuhan utama yang belum terpenuhi, dan mengapa isu tersebut perlu diselesaikan. Pendekatan ini membantu peserta membangun pola pikir yang lebih terstruktur sehingga solusi yang dikembangkan lebih relevan dengan kebutuhan pengguna.
Menurut Kusuma Sukma, Partner Coach, UD Impact Korea dan AI Innovation Coach, Learnly Society yang menjadi trainer dalam program Samsung Solve for Tomorrow 2026, Design Thinking membantu peserta membangun inovasi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ide yang terdengar menarik.
“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu cepat jatuh cinta pada ide, sebelum benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan. Banyak anak muda langsung fokus pada bentuk solusi yang terlihat menarik atau canggih, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna. Padahal, inovasi yang kuat selalu dimulai dari masalah yang nyata, penting, dan dirasakan langsung oleh orang yang terdampak,” jelas Kusuma.


