5.2 C
New York
Monday, October 19, 2026

Buy now

PGE Intensifkan Pengeboran Panas Bumi, Bidik Potensi Kapasitas Baru hingga 63 MW

TEKNOBUZZ – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mengintensifkan aktivitas pengeboran di sejumlah wilayah operasional untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi.

Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk membuka potensi kapasitas pembangkit baru, tetapi juga menjaga keandalan aset yang telah beroperasi agar pasokan uap panas bumi tetap terjaga.

Dalam siaran pers tertanggal 12 Oktober 2026, PGE menyebut pengeboran menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan aset panas bumi secara berkelanjutan.

Perusahaan menjalankan dua pendekatan, yakni pengeboran eksplorasi untuk mengidentifikasi potensi baru dan pengeboran make-up well untuk menopang produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan mengembangkan kapasitas baru.

“Untuk itu, kami terus menjaga keandalan aset panas bumi yang telah beroperasi melalui berbagai langkah, salah satunya pengeboran sumur penopang produksi (make-up well),” ujarnya.

Strategi tersebut menjadi krusial bagi keberlanjutan operasi pembangkit panas bumi. Ketersediaan uap yang memadai dibutuhkan untuk mendukung produksi listrik, sementara eksplorasi membuka peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan sumber daya yang belum dimanfaatkan.

Lima sumur dibor sepanjang 2026

Sepanjang 2026, PGE telah melakukan pengeboran lima sumur di tiga wilayah operasional, mencakup sumur eksplorasi dan sumur penopang produksi.

Salah satu kegiatan eksplorasi dilakukan melalui sumur GTG-B.1 di proyek Gunung Tiga. Proses pengeboran sumur tersebut telah diselesaikan pada 9 Juni 2026.

Sementara itu, di wilayah Lumut Balai, Sumatera Selatan, PGE telah menyelesaikan pengeboran sumur LMB 19-3 pada 3 September 2026. Perusahaan juga memulai pengeboran sumur LMB-19.4 pada 17 September 2026 dengan target kedalaman 2.500 meter.

Pengeboran LMB-19.4 merupakan bagian dari pengembangan potensi Lumut Balai Unit 3 yang ditargetkan memiliki kapasitas 55 megawatt (MW). Pengembangan ini menjadi salah satu fokus PGE dalam meningkatkan pemanfaatan sumber daya panas bumi di wilayah tersebut.

Aktivitas pengeboran juga berlangsung di Ulubelu, Tanggamus, Lampung, melalui sumur UBL-T.1 yang mulai dibor pada 17 September 2026.

Adapun di wilayah Lahendong, Sulawesi Utara, pengeboran dilakukan melalui sumur TPS-P1.2 di Tompaso. Sumur tersebut mulai dibor pada 22 September 2026 dengan target kedalaman sekitar 2.300 meter dan potensi kapasitas sekitar 8 MW.

Dengan demikian, pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan potensi sumur di Tompaso menjadi dua titik penting dalam upaya PGE memperluas kapasitas pemanfaatan panas bumi. Namun, potensi tersebut tetap perlu dibedakan dari kapasitas yang sudah terealisasi karena hasil akhir pengembangan bergantung pada tahapan teknis proyek.

Bukan sekadar menambah kapasitas pembangkit

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menjelaskan bahwa aktivitas pengeboran memiliki peran penting dalam pengelolaan portofolio panas bumi perusahaan.

Menurutnya, pengeboran eksplorasi membuka peluang untuk menemukan dan mengembangkan potensi panas bumi baru. Sementara itu, make-up well berfungsi menjaga ketersediaan uap agar pembangkit yang telah beroperasi dapat mempertahankan keandalan produksinya.

Kedua pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Reservoir & Drilling Management PGE untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi secara berkelanjutan.

Strategi ini menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi tidak cukup hanya dengan membangun pembangkit baru. Pengelolaan reservoir, keberlanjutan produksi uap, dan pemeliharaan kemampuan produksi lapangan yang sudah beroperasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan energi dalam jangka panjang.

Kelola kapasitas panas bumi 1.932 MW

PGE memiliki posisi strategis dalam industri panas bumi nasional. Perusahaan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 727 MW dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE, sedangkan 1.205 MW dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas terpasang di wilayah kerja PGE tersebut berkontribusi sekitar 70% terhadap total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia. Perusahaan juga menyebut potensi pengurangan emisi karbon dioksida mencapai sekitar 10 juta ton CO₂ per tahun.

Besarnya portofolio tersebut membuat optimalisasi lapangan eksisting dan pengembangan kapasitas baru menjadi dua agenda yang saling melengkapi. Keberhasilan menjaga produksi dari aset yang sudah beroperasi dapat mendukung keandalan pasokan, sedangkan eksplorasi dan pengembangan proyek baru membuka peluang peningkatan kontribusi panas bumi terhadap sistem energi nasional.

Meski demikian, realisasi potensi tersebut tetap memerlukan keberhasilan pengeboran, pengembangan lapangan, dan penyelesaian tahapan proyek sebelum kapasitas tambahan dapat beroperasi.

Dukungan masyarakat turut menentukan

Selain faktor teknis, PGE menilai dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar wilayah kerja menjadi bagian penting dalam kelancaran aktivitas operasional dan pengembangan panas bumi.

Dukungan tersebut diperlukan seiring berlangsungnya kegiatan pengeboran di berbagai wilayah. Kolaborasi dengan para pemangku kepentingan menjadi salah satu faktor pendukung agar pengembangan sumber daya panas bumi dapat berjalan secara berkelanjutan.

PGE menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi sebagai produsen panas bumi terkemuka dunia sekaligus pusat keunggulan panas bumi (geothermal centre of excellence).

Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendukung ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi bersih di Indonesia, sejalan dengan agenda dekarbonisasi nasional dan target net zero emission Indonesia pada 2060.

Dengan intensifikasi pengeboran di sejumlah wilayah, PGE berupaya menjaga keseimbangan antara mempertahankan produksi dari lapangan eksisting dan membuka peluang kapasitas baru. Bagi industri panas bumi, keberhasilan kedua agenda tersebut akan menjadi salah satu penentu kemampuan energi terbarukan ini untuk berkontribusi lebih besar terhadap kebutuhan energi Indonesia.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles