TEKNOBUZZ — Peluang UMKM Indonesia untuk menembus pasar internasional kini semakin terbuka melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan pemasaran digital iklan. Meta bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan UKMIndonesia.id membuktikan potensi tersebut melalui program pendampingan bertajuk Gapai Pasar Global dengan AI yang melibatkan 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta.
Program yang ditutup dalam ajang Trade Expo Indonesia 2026 pada 15 Oktober 2026 itu membekali pelaku usaha dengan keterampilan memanfaatkan AI dan solusi bisnis Meta untuk menemukan calon pembeli, mengoptimalkan iklan, serta mempercepat komunikasi dengan pelanggan di pasar internasional.
Salah satu hasil yang menonjol datang dari Zayya, bisnis fesyen muslim asal Bandung. Dengan mengalokasikan biaya iklan sebesar Rp150.000 selama lima hari, Zayya berhasil membukukan penjualan Rp1,14 juta dari Malaysia.
Nilai penjualan tersebut setara dengan 7,6 kali lipat dari investasi iklannya. Capaian ini memperlihatkan bagaimana strategi pemasaran digital yang tepat dapat membantu UMKM menjangkau pasar baru, bahkan dengan anggaran promosi yang relatif terbatas.
AI membantu UMKM menjangkau pembeli lintas negara
Keberhasilan Zayya tidak berdiri sendiri. Sejumlah peserta lain juga mencatat hasil positif setelah memanfaatkan perangkat pemasaran digital dan AI dalam kegiatan bisnis mereka.
Obudjamoe, bisnis jamu asal Batam, misalnya, mendapatkan pesanan pertamanya dari Malaysia setelah memasang iklan senilai Rp135.000 selama tujuh hari. Pesanan tersebut mencakup 60 pouch jahe instan dengan nilai sekitar Rp3 juta.
Transaksi itu turut meningkatkan penjualan Obudjamoe sekitar 50% dibandingkan kondisi biasanya.
Sementara itu, Ayubifood, bisnis makanan ringan berbahan pasta artisanal asal Jakarta, memanfaatkan Advantage+ dan Meta Business Agent untuk menjangkau distributor halal di Malaysia.
Penggunaan AI membantu Ayubifood menurunkan biaya per percakapan hingga 85%. Waktu respons kepada calon pelanggan juga berkurang dari sebelumnya 2–3 jam menjadi kurang dari lima menit. Perusahaan tersebut turut mencatat penjualan dari Malaysia.
Ketiga contoh tersebut memperlihatkan bahwa tantangan UMKM untuk masuk ke pasar global bukan hanya soal kualitas produk, tetapi juga bagaimana produk ditemukan oleh calon pembeli dan bagaimana komunikasi bisnis dilakukan secara efektif.
Dari optimasi iklan hingga komunikasi dengan pelanggan
Dalam program Gapai Pasar Global dengan AI, peserta mempelajari pemanfaatan Advantage+ untuk membantu mengoptimalkan penayangan iklan dan menemukan audiens yang relevan.
Mereka juga diperkenalkan dengan Meta Business Agent untuk mendukung komunikasi dengan calon pelanggan. Dalam kasus Zayya, teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu berkomunikasi dengan calon pembeli menggunakan bahasa Melayu.
Kombinasi pemasaran berbasis AI dan komunikasi digital ini menjadi penting bagi UMKM yang ingin memperluas pasar tanpa harus terlebih dahulu memiliki jaringan distribusi atau tim pemasaran di negara tujuan.
Meski demikian, keberhasilan ekspansi tetap membutuhkan produk yang siap ekspor, pemahaman terhadap pasar sasaran, serta kemampuan menindaklanjuti minat calon pembeli hingga menjadi transaksi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai pemanfaatan teknologi digital dan AI menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing UMKM.
“Sekarang era digital, kita harus bisa memanfaatkan AI dengan baik,” ujar Budi dalam sambutannya di Trade Expo Indonesia 2026.
Ia juga menyoroti perkembangan discovery commerce, yakni pola perdagangan ketika konsumen dapat menemukan produk melalui berbagai kanal digital.
Sementara itu, Sarim Aziz, Direktur Kebijakan Publik Meta untuk Asia Tenggara, mengatakan AI dapat membantu UMKM bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan mengalokasikan sumber daya secara lebih tepat.
Menurutnya, ketika teknologi tersebut dipadukan dengan solusi bisnis yang sesuai, investasi pemasaran yang relatif kecil berpotensi membuka akses kepada pelanggan baru di pasar global.
86% UMKM sudah menggunakan AI, tetapi masih membutuhkan panduan
Pemanfaatan AI oleh UMKM Indonesia juga terlihat dalam riset Meta bersama YouGov. Dalam survei tersebut, 86% pemilik usaha kecil yang disurvei di Indonesia menyatakan bisnis mereka telah menggunakan AI. Dari kelompok tersebut, 85% melaporkan dampak positif terhadap produktivitas dalam 12 bulan terakhir.
Namun, adopsi teknologi belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai. Sebanyak 91% responden mengatakan UMKM masih membutuhkan panduan untuk memperoleh manfaat penuh dari AI.
Minat terhadap teknologi ini juga diperkirakan terus meningkat. Sebanyak 98% pemilik usaha kecil yang disurvei berencana menggunakan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten dalam 12 bulan ke depan. Selain itu, 52% menilai pelatihan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten akan bermanfaat bagi bisnis mereka.
Riset tersebut turut mencatat bahwa 59% pemilik UMKM yang bisnisnya menggunakan AI telah memanfaatkannya untuk membuat atau mengedit konten. Sebanyak 39% lainnya menggunakan AI untuk menganalisis informasi bisnis atau pelanggan.
Meski demikian, biaya masih menjadi kendala. Sebanyak 47% responden menyebut biaya sebagai hambatan untuk mengikuti pelatihan AI. Temuan ini menunjukkan bahwa perluasan akses terhadap teknologi perlu diimbangi dengan pendampingan praktis agar pelaku usaha dapat menggunakannya secara efektif.
Survei YouGov bersama Meta tersebut dilakukan secara daring terhadap 3.983 pemilik UMKM di sembilan pasar Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, pada 6 Agustus hingga 2 September 2026. Hasilnya memberikan gambaran mengenai responden yang disurvei dan bukan merupakan representasi nasional seluruh populasi UMKM.
Katalog ekspor untuk memperluas peluang bisnis
Sebagai bagian dari penutupan program, Meta dan Kemendag menyerahkan National Export-Ready Catalogue yang berisi profil serta produk unggulan peserta program Gapai Pasar Global dengan AI.
Katalog ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat akses peserta terhadap peluang pasar ekspor, dengan memperkenalkan produk UMKM yang telah dipersiapkan untuk menjangkau pembeli internasional.
Kolaborasi tersebut sekaligus menempatkan AI bukan sekadar sebagai alat untuk membuat konten promosi, melainkan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan efisiensi pemasaran, menemukan calon pelanggan, dan mendukung komunikasi lintas negara.
Hasil yang dicatat Zayya, Obudjamoe, dan Ayubifood menunjukkan adanya peluang nyata dari pemanfaatan teknologi digital. Namun, capaian masing-masing bisnis tidak serta-merta menjamin hasil serupa bagi seluruh UMKM.
Bagi pelaku usaha yang ingin berekspansi ke luar negeri, tantangan berikutnya adalah memastikan produk sesuai dengan kebutuhan pasar, mengelola biaya promosi secara terukur, serta membangun proses pelayanan dan pemenuhan pesanan yang dapat diandalkan.
Dengan kombinasi kesiapan produk, keterampilan digital, dan strategi pemasaran berbasis AI, UMKM Indonesia memiliki lebih banyak pilihan untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen global.


