TEKNOBUZZ – IBM menegaskan pentingnya ketahanan siber berbasis kecerdasan buatan di kawasan Asia Pasifik melalui sesi media interaktif yang berlangsung online, yang dipandu pakar keamanan dari IBM Security X-Force.
Dalam acara media briefing eksklusif ASEAN bertajuk ‘Ketahanan Siber ASEAN:Didukung oleh AI untuk Kedaulatan yang Lebih Kuat’ menghadirkan simulasi serangan siber realistis menggunakan fasilitas pelatihan imersif IBM X-Force Cyber Range, yang memungkinkan organisasi menguji respons insiden dan manajemen krisis dalam lingkungan aman dan terkontrol.

Dipandu oleh Jake Paulson, Deputy Head of IBM X-Force Cyber Range, simulasi langsung memperlihatkan cara pelaku kejahatan siber beroperasi serta bagaimana tim pertahanan mendeteksi dan melawan serangan di balik layar. Media dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina memperoleh gambaran nyata tentang kompleksitas ancaman siber modern.
“AI tidak hanya mentransformasi cara kita berinovasi, tetapi juga secara fundamental mengubah cara kita memperkuat pertahanan. Dengan meningkatkan visibilitas, kecepatan, dan presisi di seluruh siklus keamanan, AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman dan merespons secara real time,” ujar Jake Paulson disela acara media briefing eksklusif ASEAN yang berlangsung online.
Baca juga: Gandeng The Recording Academy, IBM Hadirkan GRAMMY IQ
Dalam sesi tersebut, IBM juga memaparkan temuan utama IBM X-Force 2026 Threat Intelligence Index. Kawasan Asia Pasifik menyumbang dua puluh tujuh persen dari total insiden global yang ditangani X-Force, turun ke peringkat kedua pada dua ribu dua puluh lima.

Eksploitasi aplikasi publik dan penggunaan akun valid masih menjadi vektor akses awal terbesar, menandakan kerentanan infrastruktur digital. Sektor manufaktur tetap menjadi target utama, menyumbang enam puluh lima persen insiden di Asia Pasifik, diikuti keuangan dan asuransi serta transportasi.
IBM turut menyoroti pentingnya kedaulatan digital bagi perusahaan. Dalam konteks ini, kedaulatan berarti kendali penuh atas data, teknologi, dan operasional, melampaui sekadar kepatuhan regulasi. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, IBM memperkenalkan IBM Sovereign Core, fondasi perangkat lunak yang diumumkan pada Januari dua ribu dua puluh enam, guna memastikan data, identitas, kunci enkripsi, dan akses administratif tetap berada dalam yurisdiksi yang ditetapkan.
“Kedaulatan digital menjadi keharusan dalam keamanan siber di Asia Tenggara. Infrastruktur berdaulat yang siap AI memberikan tingkat keamanan, kepatuhan, dan kepastian yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berinovasi dalam skala besar,” kata Catherine Lian, General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN.
Untuk laporan lengkap IBM X-Force 2026 Threat Intelligence Index dapat diakses melalui situs resmi IBM.


