TEKNOBUZZ – Sejak pekan lalu, hingga saat ini banyak beredar berita palsu (Haoks) di tengah situasi demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah Indonesia, termasuk Jakarta. Konten hoaks berupa foto, video, atau potongan berita palsu sengaja dibuat untuk memprovokasi publik. Jika diterima mentah-mentah, informasi menyesatkan ini berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan keamanan digital.
Menurut Adi Sumono, Wakil Ketua Media Digital dan Penyiaran (Digi Broadcast), Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) saat dihubungi Tim Teknobuzz ID, pola hoaks ketika terjadi demo hampir selalu sama.
“Hoaks yang beredar di tengah masyarakat hingga saat ini, seringkali berupa video atau foto lama yang diberi keterangan baru, lalu disebarkan seolah-olah itu adalah kejadian terkini. Penyebarannya biasanya dimulai di grup-grup tertutup, lalu meluas ke platform terbuka melalui potongan video singkat yang mudah dibagikan ulang. Tidak jarang, hoaks ini memanfaatkan logo media atau institusi resmi untuk menciptakan kesan otoritatif, padahal palsu. Ada pula manipulasi lokasi dan waktu, bahkan amplifikasi dari akun-akun tertentu yang bekerja serempak,” jelas Adi.
Baca juga: MASTEL Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Ketahanan Informasi Nasional
Tiga Langkah Saring Informasi
Agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks, MASTEL menyarankan masyarakat disarankan untuk menahan jempol sejenak sebelum membagikan informasi. Ada tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan, berikut caranya.
1. Cek sumber
Sebelum membagikan informasi yang belum terbukti kebenarannya, sebaiknya masyarakat harus mengetahui dulu siapa pembuat informasi itu, apakah punya rekam jejak, dan adakah bukti pendukung.
2. Baca isi informasi secara penuh dan detail, jangan berhenti pada judul
Jika informasi tersebut berupa teks atau artikel, perhatikan tanggal, lokasi, dan konteks. Sebaiknya baca secara detail teks tersebut, jangan hanya membaca judulnya saja. Dan kalau informasi tersebut berasal dari artikel, pastikan artikel tersebut berasal dari media nasional yang memiliki kredibilitas dan verifikasi oleh instansi terkait.
Jangan mudah menerima pesan singkat berupa teks dari media sosial dan aplikasi pesan instan, sebaiknya cek dulu kebenaran informasi tersebut. Jika informasi yang belum terbukti kebenarannya, berasal dari sebuah instansi, perusahaan atau organisasi, sebaiknya cek di situs atau media sosial resmi mereka. Jika tidak ada informasi yang dimaksud atau tidak ada klarifikasi dari situs atau media sosial resmi instansi, perusahaan atau organisasi, maka kemungkinan besar informasi tersebut adalah hoaks.
3. Silang informasi dengan minimal dua sumber kredibel lain
Kalau memungkinkan, gunakan reverse image untuk mengecek foto atau video. Waspadai konten yang sangat emosional atau tautan unduhan mencurigakan.
“Waspadai konten yang sangat emosional atau tautan unduhan mencurigakan. Tahan jempol sejenak sebelum membagikan sesuatu. Dalam roadmap literasi partisipatif yang kami siapkan, kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima klarifikasi, tetapi juga bisa menjadi produsen klarifikasi sederhana bagi lingkungannya,” ungkap Adi Sumono.
Adi menambahkan, “Dalam policy paper Roadmap yang kami rumuskan bersama BBC Media Action, kami mendorong adanya mekanisme early warning, log rumor nasional, dan trusted flagger lintas platform, dengan jalur eskalasi yang jelas”.
Menurut Adi, log rumor nasional adalah pangkalan data bersama yang mencatat, melacak, dan mengklasifikasikan rumor atau isu yang beredar di ruang digital maupun luring, khususnya yang berpotensi menjadi hoaks atau disinformasi. Sedangkan trusted flagger adalah lembaga pemeriksa fakta, organisasi masyarakat sipil, asosiasi industri seperti MASTEL, atau media arus utama diberikan akses khusus oleh platform digital untuk melaporkan konten berisiko tinggi secara lebih cepat, akurat, dan dengan prioritas tindak lanjut.
Adi juga menyarankan kepada masyarakat, agar tidak hanya menjadi penerima klarifikasi, tapi juga produsen klarifikasi sederhana bagi lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, ekosistem digital yang aman bisa tercipta bersama.


