TEKNOBUZZ – Indonesia kian mantap menapakkan kakinya sebagai pemain utama dalam peta ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara. Komitmen ini dipertegas oleh Digital Edge Indonesia yang baru saja mengumumkan dua pencapaian masif di kampus data center CGK, Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Digital Edge secara resmi merampungkan struktur bangunan (topping out) untuk gedung pertama mereka, CGK1.
Beriringan dengan itu, penyedia infrastruktur digital regional ini juga sukses menandatangani perjanjian pasokan listrik raksasa bersama PT PLN (Persero) dengan total kapasitas daya mencapai 1,45 GW (2 \times 725 MVA).
Kerja sama ini tercatat sebagai komitmen daya terbesar yang pernah disepakati untuk satu kampus pusat data di Indonesia.
Fondasi Kelistrikan Dual-Feed untuk Kebutuhan “Mission-Critical”
Dengan total nilai investasi jumbo sebesar US$ 4,5 miliar, Kampus CGK dirancang khusus untuk menangani beban kerja komputasi intensif dan AI yang membutuhkan stabilitas tinggi.
Guna menjamin operasional tanpa henti, pasokan listrik sebesar 1,45 GW disusun melalui skema arsitektur kelistrikan dual-feed lewat dua jalur suplai independen. Skema ini krusial untuk menunjang kebutuhan operasional mission-critical, seperti AI dan komputasi awan (cloud computing).
”Topping out CGK1, yang didukung oleh perjanjian pasokan listrik terbesar dalam sejarah pusat data Indonesia, mencerminkan keyakinan kami terhadap pertumbuhan digital jangka panjang negeri ini,” ujar Stephanus Oscar, CEO Digital Edge Indonesia.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, juga menegaskan kesiapan pihaknya dalam mendukung ekosistem ini. Menurutnya, pertumbuhan industri data center merupakan cerminan dari melesatnya ekosistem digital nasional. PLN berkomitmen menyediakan listrik yang andal dan berkelanjutan demi memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara.
Target Operasional dan Keunggulan Infrastruktur Bawah Tanah
Proyek strategis ini dikembangkan secara agresif sesuai dengan permintaan pasar dan komitmen pelanggan yang telah ada:
- Gedung CGK1: Dijadwalkan siap beroperasi penuh pada Kuartal IV (Q4) tahun 2026.
- Gedung Kedua & Ketiga: Ditargetkan menyusul beroperasi masing-masing pada Kuartal I (Q1) dan Kuartal II (Q2) tahun 2027.
Dari sisi konektivitas, Kampus CGK memiliki keunggulan geografis karena berjarak kurang dari 15 km dari klaster data center Cikarang lainnya, serta 40 km dari fasilitas EDGE1 dan EDGE2 di pusat kota Jakarta. Lokasi ini menjamin akses low-latency langsung ke distrik bisnis utama.
Lebih dari itu, ketahanan jaringan kampus ini diperkuat oleh anak perusahaan Digital Edge, Indonet, yang membangun jaringan serat optik dan aset telekomunikasi 100% di bawah tanah (underground) guna meminimalkan risiko gangguan eksternal.
Komitmen Hijau: Target PUE 1,25 dan Teknologi Pendingin Cair
Bukan hanya soal kapasitas besar, Digital Edge juga membawa misi keberlanjutan (sustainability). Pusat data berkapasitas total 500MW ini membidik nilai annualized PUE (Power Usage Effectiveness) terdepan di industri, yaitu sebesar 1,25.
Untuk mencapai efisiensi energi yang tinggi tersebut, fasilitas ini mengadopsi berbagai inovasi hijau, di antaranya:
- Teknologi Pendinginan Cair (Liquid Cooling): Diterapkan khusus demi mendukung kestabilan suhu pada workload kecerdasan buatan (AI) yang tinggi.
- Sertifikasi LEED: Dibangun sesuai standar sertifikasi bangunan ramah lingkungan global.
- Sistem Daur Ulang: Mengintegrasikan sistem daur ulang air serta memanfaatkan pasokan energi terbarukan.
Melalui sinergi masif antara Digital Edge dan PLN ini, Indonesia kini memiliki modal infrastruktur berskala besar yang siap menyokong akselerasi teknologi masa depan secara bertanggung jawab dan hemat energi.


