16.8 C
New York
Monday, September 21, 2026

Buy now

Kolaborasi Lintas Industri Diharapkan jadi Mesin Baru Ekonomi Digital

TEKNOBUZZ — Transformasi digital di Indonesia kini bukan lagi sekadar soal seberapa cepat jaringan internet terbangun atau seberapa canggih gawai yang digenggam masyarakat.

Memasuki babak baru, digitalisasi dituntut untuk memberikan dampak riil: mendongkrak produktivitas, memperkuat daya saing industri, hingga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Pesan krusial tersebut mengemuka dalam gelaran The 3rd Digital Transformation Forum (DTF) 2026 yang diselenggarakan oleh Selular Media Network di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Mengusung tema “Kolaborasi Lintas Industri, Lembaga dan Kementerian, Mendorong Digitalisasi dan Kemajuan Ekonomi”, forum ini menegaskan satu benang merah utama: transformasi digital Indonesia tidak akan bisa berjalan sendiri.

CEO sekaligus Editor in Chief Selular Media Network, Uday Rayana, menegaskan bahwa indikator keberhasilan digitalisasi bukan sekadar adopsi teknologi mutakhir.

“Tantangan sesungguhnya adalah memastikan digitalisasi mampu meningkatkan daya saing industri, memperluas manfaat teknologi, dan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkap Uday.

Menjembatani Layanan Publik dan Investasi

Dari sisi pemerintah, digitalisasi telah bergeser dari sekadar pilihan menjadi sebuah keharusan. Kepala Biro Humas dan IT Kemenko Kumham Imipas, Mamur Saputra, menjelaskan bahwa integrasi layanan publik—seperti paspor online, autogate, e-visa, hingga izin tinggal digital—bukan hanya mempermudah masyarakat, melainkan menjadi fondasi kepastian hukum.

Layanan publik yang cepat dan transparan dinilai menjadi magnet penting untuk menarik investasi dan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

Namun, kepastian hukum dan iklim investasi ini membutuhkan fondasi konektivitas yang sehat.

Pergeseran Telco ke TechCo dan Beban Regulasi

Industri telekomunikasi saat ini tengah bertransformasi dari sekadar penyedia jaringan (Telco) menjadi penyedia solusi digital (TechCo). VP Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Machdi Fauzi, mengungkapkan bahwa meski konektivitas tetap menjadi fondasi, monetisasi terbesar di masa depan berada pada lapisan aplikasi, IoT, cloud, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Agar lompatan digital ini terwujud, pelaku industri mendorong regulasi yang lebih kondusif, seperti efisiensi biaya spektrum frekuensi serta skema infrastructure dan spectrum sharing agar investasi tetap sehat dan harga layanan digital tetap terjangkau oleh masyarakat.

Di sisi lain, Ketua Bidang Kelembagaan APJII, Elly Noor, menyoroti pentingnya meruntuhkan “ego sektoral”. “Kita semua tidak bisa bekerja sendiri. Masalah-masalah yang dihadapi di lapangan harus kita duduk bersama untuk mencari solusinya. Yang paling penting adalah tidak ada lagi ego sektoral atau bekerja secara silo,” tegas Elly.

Tantangan Pasokan Chipset dan Perang Ekosistem AI

Perkembangan AI yang masif juga membawa tantangan baru bagi industri perangkat. Mark Jefferson Go dari Erajaya Digital memaparkan adanya ancaman kelangkaan chipset karena produsen smartphone kini harus berebut pasokan chipset dengan pengembang teknologi AI. Kondisi ini berpotensi melipatgandakan harga perangkat. Untuk menanggulanginya, skema pembiayaan (fintech) dan kolaborasi dengan operator menjadi kunci agar daya beli konsumen tetap terjaga.

Sementara itu, pemain industri seperti Motorola lewat Country General Manager-nya, Bagus Prasetyo, mulai berfokus pada pengembangan Hybrid AI dan Inter Connected AI. Persaingan ke depan tak lagi seputar spesifikasi fisik seperti RAM atau kamera, melainkan tentang kemampuan membangun ekosistem AI terpadu yang dapat terhubung melintasi berbagai perangkat.

Bahkan Sektor Perkebunan Sawit Membutuhkan IoT dan AI

Bukti nyata bahwa digitalisasi telah menyentuh akar rumput ekonomi Indonesia terlihat pada sektor perkebunan kelapa sawit. Pengurus Bidang Komunikasi GAPKI, Mochamad Husni, membeberkan bahwa industri yang mencakup 16 juta hektare lahan dan 16 juta tenaga kerja ini mulai mengadopsi AI, drone, citra satelit, dan IoT.

Tuntutan pasar global akan traceability (keterlacakan asal-usul produk) memaksa sektor tradisional ini beralih dari pencatatan manual. Penggunaan AI dan IoT di perkebunan sawit ini secara otomatis membuka peluang kolaborasi besar bagi operator seluler, penyedia cloud, fintech, hingga perusahaan logistik.

Kolaborasi sebagai Penentu Masa Depan

Hasil dari DTF 2026 menegaskan bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia ditentukan oleh sinergi:

  • Pemerintah membutuhkan teknologi dan investasi.
  • Operator membutuhkan regulasi yang mendukung.
  • Produsen perangkat membutuhkan ekosistem dan daya beli pasar.
  • Sektor riil (seperti pertanian & perkebunan) membutuhkan jaringan dan solusi data untuk efisiensi.

Pemenang dalam era baru transformasi digital Indonesia bukanlah pihak yang paling canggih secara teknologi, melainkan siapa yang paling siap berkolaborasi untuk menciptakan nilai ekonomi nyata bagi bangsa.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles