TEKNOBUZZ – Babak baru industri otomotif dan transisi energi hijau di Indonesia resmi dimulai. Perusahaan kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) raksasa dunia, BYD, secara resmi meresmikan pabrik fasilitas manufaktur terbarunya di Kawasan Industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat.
Peresmian pabrik seluas 126 hektar ini tidak hanya menandai tonggak sejarah lokalisasi BYD di Tanah Air, melainkan mempertegas posisi Indonesia yang kini melesat dari sekadar pasar konsumen menjadi pusat manufaktur dan rantai pasok global kendaraan listrik.
Momen Historis: Unit Ke-100.000 Lahir dari Subang
Acara peresmian ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi negara, antara lain Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Momen paling bersejarah ditandai dengan prosesi roll-off unit BYD M6 DM. Kendaraan keluarga bertenaga hibrida/Dual Mode ini resmi tercatat sebagai unit ke-100.000 BYD yang diproduksi secara lokal di Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan penuh, Menperin Agus Gumiwang dan Luhut Binsar Pandjaitan turut membubuhkan tanda tangan secara simbolis di atas kap mobil tersebut.
“Peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia hari ini bukan hanya pembukaan pabrik baru, melainkan simbol lahirnya harapan dan peluang bagi kemajuan industrialisasi nasional melalui penciptaan ekosistem industri,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Mengakselerasi Ekonomi Nasional: 20.000 Lapangan Kerja dan Target TKDN 60%

Fasilitas manufaktur Subang dirancang dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit kendaraan per tahun dan dibangun dalam waktu singkat, yakni sekitar 20 bulan.
Sebagai investasi terbesar di Kabupaten Subang, keberadaan pabrik ini membawa dampak multiplier yang signifikan bagi perekonomian nasional:
- Penyerapan Tenaga Kerja: Pabrik ini telah melibatkan lebih dari 200 mitra rantai pasok lokal dan membuka lebih dari 5.000 lapangan kerja. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga lebih dari 20.000 lapangan kerja saat kapasitas produksi penuh tercapai.
- Penguatan Rantai Pasok (TKDN): BYD berkomitmen memperdalam lokalisasi dengan menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 60% pada Januari 2027.
- Ekosistem Terintegrasi: Investasi tidak berhenti pada perakitan bodi. Ke depan, BYD juga menyiapkan pengembangan fasilitas baterai, pusat suku cadang, hingga jaringan logistik terpadu di Subang.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menekankan pentingnya integrasi ekosistem ini. Menurutnya, satu investasi besar harus melahirkan industri-industri baru di sekelilingnya.
“Kita sudah memiliki industri baterai, battery pack, dan sekarang kita membangun kendaraan serta berbagai bagian dari ekosistemnya. Dari Subang kita tidak hanya memproduksi kendaraan untuk Indonesia, tetapi juga membawa produk buatan Indonesia ke dunia,” tegas Luhut.
Teknologi Manufaktur Tercanggih: “The Most Advanced Factory in Indonesia”
Pabrik Subang merupakan fasilitas produksi BYD ke-13 di dunia. Mengusung visi “The Most Advanced Factory in Indonesia”, fasilitas ini menerapkan tingkat otomatisasi yang tinggi dan sistem produksi cerdas terintegrasi.
Melalui sesi factory tour, media dan tamu undangan diajak melihat langsung tiga rantai manufaktur utama:
- Welding (Pengelasan): Menerapkan sistem produksi fleksibel multi-model dengan presisi robotik tingi yang memungkinkan berbagai model diproduksi pada satu lini fleksibel.
- Painting (Pengecatan): Menggabungkan kontrol kualitas digital terintegrasi dengan keahlian SDM untuk perlindungan dan tampilan maksimal.
- Final Assembly (Perakitan Akhir): Tahap penggabungan seluruh komponen, pengujian ketat, hingga penyetelan akhir sebelum kendaraan dikirim ke konsumen.
Kepemimpinan Pasar dan Komitmen In Indonesia, For Indonesia
Sejak resmi masuk ke Indonesia pada Januari 2024, BYD mencatatkan pertumbuhan luar biasa. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, BYD menguasai 35% pangsa pasar NEV di Indonesia dengan penjualan mencapai 32.800 unit.
Peningkatan adopsi kendaraan listrik di Tanah Air juga melonjak drastis dari 1% pada 2022 menjadi 23% pada Juli 2026.
Vice President BYD Co., Ltd., Liu Xueliang, menegaskan bahwa kehadiran BYD di Indonesia dilandasi oleh kemitraan strategis jangka panjang.
“Dengan membawa pengalaman, teknologi, dan kapabilitas manufaktur global kami ke Indonesia, kami berkomitmen untuk tumbuh bersama Indonesia. Melalui semangat in Indonesia-for Indonesia, BYD membangun industri kendaraan energi baru yang berkelanjutan yang dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia,” pungkas Liu Xueliang.


