TEKNOBUZZ– Huawei akhirnya resmi memperkenalkan lini smartphone flagship terbarunya, Huawei Pura 90 Series (Pro dan Pro Max), dalam ajang peluncuran global pada 14 Juli 2026 yang hadir dengan teknologi 5G pada ekosistem miliknya.
Namun demikian peluncuran hp terbaru Huawei ini juga diwarnai rumor kuat di komunitas teknologi Indonesia bahwa Huawei Pura 90s series akan kembali “terkunci” di jaringan 4G untuk pasar internasional.
Rumor ini memicu skeptisisme karena selama beberapa tahun terakhir, ponsel flagship Huawei di Indonesia memang terbatas pada jaringan 4G, meskipun secara hardware di pasar domestik China perangkat tersebut telah mendukung 5G.
Huawei sendiri telah memastikan bahwa seri Pura 90s yang dipasarkan secara global—termasuk Indonesia—telah mendukung jaringan 5G.
Mengapa Huawei Sempat “Tertahan” di 4G?
Selama masa sanksi perdagangan yang dimulai sejak 2019, Huawei secara efektif diputus aksesnya terhadap teknologi semikonduktor canggih dan modem 5G dari perusahaan berbasis AS seperti Qualcomm. Huawei terpaksa menggunakan chipset versi 4G khusus untuk pasar global karena tidak memiliki akses ke komponen yang dibutuhkan untuk mengaktifkan konektivitas 5G.
Kini, dengan keberhasilan mereka memproduksi chipset 5G sendiri melalui rantai pasok domestik China, Huawei membuktikan bahwa mereka telah mampu menembus batasan tersebut dan siap kembali menantang pemain besar lainnya di pasar global.
Mengapa Huawei Kini Bisa Menghadirkan 5G?
Kembalinya fitur 5G pada ponsel Huawei bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perjuangan panjang perusahaan dalam mencapai kemandirian teknologi. Berikut adalah kunci “kebangkitan” Huawei:
- Kemandirian Chipset (Kirin): Huawei berhasil mengembangkan kembali chipset seri Kirin mereka sendiri (seperti seri Kirin 9000s) yang memiliki kemampuan integrasi modem 5G.
- Kolaborasi Strategis dengan SMIC: Huawei menjalin kemitraan erat dengan Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), produsen chip utama asal China, untuk memproduksi chipset canggih dengan fabrikasi 7nm secara domestik.
- Inovasi Mandiri: Menghadapi pembatasan akses ke teknologi AS, Huawei melakukan investasi besar-besaran dalam riset untuk mengganti ribuan komponen asing dengan desain buatan sendiri, termasuk alat desain semikonduktor (EDA).
- Ekosistem Terintegrasi: Dengan mengontrol desain perangkat keras (chip) dan perangkat lunak (HarmonyOS), Huawei kini mampu mengoptimalkan performa jaringan 5G secara mandiri tanpa ketergantungan pada vendor pihak ketiga yang terkena sanksi.
Kesiapan TKDN di Indonesia
Untuk dapat memasarkan perangkat 5G secara resmi di Indonesia, setiap produsen wajib memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal sebesar 35%.
- Status Sertifikasi: Huawei Pura 90s Pro dan Pro Max telah memenuhi persyaratan sertifikasi perangkat telekomunikasi dari Kementerian Perindustrian.
- Dampak: Terpenuhinya nilai TKDN ini merupakan bukti bahwa Huawei telah berhasil melakukan penyesuaian rantai pasok dan operasional yang sesuai dengan regulasi Indonesia, sekaligus menutup alasan teknis yang selama ini menghambat kehadiran fitur 5G mereka.
Jika mengacu pada spesifikasi global, jaringan seluler pada Huawei Pura 90 Series mendukung berbagai spektrum berbeda yang ada di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Namun demikian, untuk memastikan apakah perangkat Huawei Pura 90 series benar-benar bisa menjalankan jaringan 5G di Indonesia kita perlu melakukan pengujian langsung terhadap perangkat tersebut.
Jika benar adanya, dengan resminya dukungan 5G pada Huawei Pura 90s series, apakah menurut kalian langkah Huawei dalam membangun rantai pasok mandiri ini akan membuat mereka kembali merajai pasar smartphone premium? Apakah kehadiran jaringan 5G dapat menggantikan kekurangan tidak adanya layanan Google Mobile Service?


