TEKNOBUZZ — Salesforce menegaskan pentingnya adopsi kecerdasan buatan (AI) bagi perusahaan Indonesia dalam ajang Agentforce World Tour Jakarta 2026. Melalui riset terbaru, perusahaan mengungkap bahwa hanya 33% organisasi di Indonesia yang telah melatih karyawannya menggunakan AI, menunjukkan perlunya peningkatan AI-fluency di dunia kerja.
Survei yang dilakukan bersama YouGov terhadap 1.002 knowledge workers menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap AI lebih dipengaruhi penggunaan pribadi dibanding kebijakan perusahaan. Sebanyak 68% responden mengaku penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari meningkatkan kepercayaan mereka saat menggunakannya di tempat kerja.
Sementara 70% merasa lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Namun, tingginya minat ini belum diimbangi kesiapan perusahaan.
Lebih dari sepertiga responden (37%) ingin memahami keterampilan AI yang perlu dikembangkan, tetapi hanya sebagian kecil yang mendapatkan pelatihan memadai. Kondisi ini berpotensi memicu fenomena Shadow AI, yaitu penggunaan alat AI tanpa pengawasan yang dapat meningkatkan risiko keamanan dan kebocoran data.
Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, menyebut bahwa antusiasme terhadap AI harus diimbangi dengan fondasi yang kuat.

“Seiring percepatan ambisi AI di Indonesia, bisnis memiliki peluang besar untuk mengonversi antusiasme yang tumbuh dari karyawan ini menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi jangka panjang. Untuk mencapainya, organisasi harus melampaui sekadar menyediakan akses ke alat AI, mereka perlu membangun fondasi yang tepat, tata kelola yang terpercaya, sistem tingkat perusahaan yang aman, serta dukungan keterampilan agar karyawan dapat menggunakan AI dengan percaya diri dan bertanggung jawab,” ujar Andreas disela acara Media Briefing Agentforce World Tour Jakarta 2026 di Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Silmy Karim, menegaskan bahwa transformasi digital berbasis AI menjadi kunci meningkatkan daya saing nasional.
Ia menyebut teknologi seperti Agentforce dan Slack mampu mempercepat pengambilan keputusan dan inovasi di sektor publik maupun bisnis.Riset ini juga mengungkap perubahan perilaku konsumen Indonesia yang semakin AI-first. Sebanyak 51% responden mengharapkan layanan lebih cepat, 54% menginginkan akurasi tinggi, dan 52% menuntut solusi yang lebih inovatif dari perusahaan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Salesforce menghadirkan platform Agentforce yang mengintegrasikan manusia, agen AI, aplikasi, dan data dalam satu ekosistem. Acara ini dihadiri lebih dari 800 peserta, termasuk perusahaan seperti Bank Syariah Indonesia dan AXA Mandiri yang berbagi pengalaman transformasi digital mereka.
Dengan meningkatnya adopsi AI, Salesforce menilai perusahaan Indonesia perlu segera berinvestasi dalam pelatihan dan infrastruktur guna menciptakan nilai bisnis nyata di era Agentic Enterprise.


