11.9 C
New York
Wednesday, April 29, 2026

Buy now

Isu Merger Grab–GoTo Kembali Mencuat, Rumor Lagi atau Fakta?

TEKNOBUZZ – Rencana merger antara Grab dan GoTo kembali menguat setelah pemerintah Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap kemungkinan penggabungan dua raksasa layanan ride-hailing dan food delivery tersebut. Mengacu pada beberapa sumber, termasuk Reuters, Pemerintah RI yang sebelumnya menolak merger, kini berubah posisi menjadi mendukung, bahkan terlibat langsung dalam rencana merger antara Grab dan GoTo.

Langkah ini dilakukan Pemerintah RI setelah adanya pembahasan mendalam, termasuk tuntutan perbaikan fee dan bonus bagi mitra pengemudi.

Pemerintah RI Kaji Kemungkinan Golden Share di Merger Grab–GoTo

Mengutip dari berbagai sumber, sebelumnya Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia disebut tengah menjajaki peluang mengambil golden share dalam entitas gabungan. Golden share akan memberi hak veto pada keputusan strategis, meskipun Danantara hanya memiliki porsi kepemilikan kecil. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menjaga kepentingan nasional dalam industri digital yang strategis.

CEO Grab, Anthony Tan, dilaporkan Reuters telah bertemu langsung dengan Presiden RI, Prabowo Subianto untuk melobi kesepakatan merger. Istana pun mengkonfirmasi bahwa pembahasan merger Grab–GoTo sedang dikaji, sambil menunggu laporan dari CEO Danantara, Rosan Roeslani yang baru kembali dari agenda luar negeri.

Pemerintah RI menilai penggabungan dua perusahaan dapat mencegah persaingan tidak sehat dan memperkuat penciptaan lapangan kerja.

Baca juga: Resmi, GoTo Tidak Merger dengan Grab!

Sikap GoTo: Mendukung Kebijakan Pemerintah

Dari sisi internal, merger ini juga dipengaruhi dinamika kepemimpinan di GoTo, seperti dikabarkan Bloomberg. Sejumlah pemegang saham besar dikabarkan ingin mengganti CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), Patrick Walujo, yang selama ini menolak akuisisi oleh Grab. Jika terjadi perubahan kepemimpinan, peluang menuju merger bisa semakin terbuka lebar.

GoTo menyebut selalu mendukung kebijakan pemerintah yang mengutamakan kepentingan mitra pengemudi dan UMKM. Meski begitu, manajemen GoTo menegaskan belum ada keputusan atau kesepakatan terkait merger. Setiap langkah yang diambil, kata mereka, tetap akan mengikuti regulasi pasar modal dan mengutamakan kepentingan pemegang saham.

Pasar Ride-Hailing Bisa Berubah Total

Jika merger ini terwujud, lanskap pasar ride-hailing dan layanan antar makanan di Indonesia akan berubah signifikan. Data terbaru dari Euromonitor menunjukkan entitas gabungan Grab–GoTo akan menguasai lebih dari 91% pasar nasional.

Konsolidasi ini berpotensi menciptakan pengalaman aplikasi yang lebih sederhana bagi pengguna, tapi juga memicu kekhawatiran akan kenaikan harga dan berkurangnya posisi tawar mitra pengemudi.

Tantangan Regulasi dan Pengawasan Antitrust

Meski dukungan politik menguat, rencana merger Grab–GoTo masih menghadapi tantangan besar, termasuk pengawasan antitrust dari regulator Indonesia dan Singapura. Untuk itu, Pemerintah RI ingin memastikan merger tidak merugikan konsumen, tetap melindungi penghasilan pengemudi, serta meminimalkan risiko monopoli di pasar digital.

Walau dukungan pemerintah menjadi katalis kuat, keputusan akhir tetap berada di tangan kedua perusahaan. Danantara menegaskan bahwa merger harus diputuskan berdasarkan hubungan business-to-business (B2B), dengan fokus pada keuntungan komersial jangka panjang. Hingga kini, proses masih dalam tahap penjajakan, dan masyarakat Indonesia pastinya telah menantikan bagaimana merger ini dapat membentuk masa depan ekosistem digital Indonesia.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles