TEKNOBUZZ – Bandung tidak pernah kehabisan cerita. Kota Kembang ini bukan hanya tentang kuliner dan pemandangan alam yang asri, tetapi juga merupakan panggung penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan, redaksi Teknobuzz.id menggelar sebuah perjalanan istimewa: Techpedisi Kemerdekaan Bandung.
Techpedisi ini bukan sekadar perjalanan wisata sejarah. Ini adalah sebuah misi untuk mengeksplorasi jejak-jejak patriotisme yang tertanam di sudut-sudut kota, sekaligus menguji bagaimana teknologi AI (Artificial Intelligence) modern dapat membantu kita menghidupkan kembali narasi masa lalu. Dipersenjatai dengan lini flagship terbaru Samsung Galaxy S26 Series dan didukung penuh oleh jaringan kuat Telkom Indonesia, tim kami siap menyusuri lorong waktu.
“Kami ingin melihat bagaimana teknologi paling modern saat ini, seperti AI dan konektivitas 5G, bisa menjadi jembatan untuk memahami perjuangan para pahlawan kita di masa lampau. Jurnalisme mobile kini bukan lagi tentang sekadar mengambil foto, tetapi tentang konteks dan efisiensi yang dihadirkan oleh AI,” ujar ketua tim Techpedisi TEKNOBUZZ.
Menjelajahi Jejak Sinyal Perjuangan
ITB Kampus Ganesha: Kawah Candradimuka Pemikiran Sang Proklamator
Petualangan Techpedisi dimulai dari jantung pendidikan teknik Indonesia: ITB Kampus Ganesha. Kampus ini menyimpan jejak penting lahirnya kedaulatan sains dan pemikiran pergerakan nasional. Di sinilah Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, menimba ilmu teknik sipil pada era Technische Hoogeschool te Bandung (THS) hingga lulus pada tahun 1926.
Kampus ini melahirkan insinyur-insinyur pertama Hindia Belanda. Kampus yang berpusat di kawasan Ganesa ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan basis intelektual dan militer para pemuda pejuang.
Kelebihan utama pejuang dari kampus ITB/STT adalah kemampuan intelektual dan teknik mereka. Keahlian ini sangat krusial karena saat itu persenjataan Indonesia kalah modern dari Sekutu. Mahasiswa teknik mesin dan kimia menggunakan laboratorium kampus secara sembunyi-sembunyi untuk membuat bom, merakit granat nanas, dan memodifikasi senjata rampasan dari tentara Jepang.
Mereka juga mengoperasikan bengkel-bengkel militer darurat untuk memperbaiki senapan taktis dan kendaraan tempur yang rusak milik pejuang Bandung.Â
Dalam industri telekomunikasi Indonesia, ITB juga bagai kawah candradimuka yang melahirkan banyak tokoh-tokoh penting dalam industri ini.
Kompleks Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia
Dari ITB, tim meluncur ke area Bandung Tengah menuju Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia. Gedung Sate yang megah adalah ikon Kota Bandung, namun dalam konteks kemerdekaan, kompleks ini menyimpan sejarah heroik pertahanan kantor Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT).
Kompleks Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia di Bandung adalah saksi bisu tempat lahirnya Jawatan PTT. Lokasi ini menjadi titik tolak sejarah panjang Telkom Indonesia. Pada masa perang kemerdekaan, Jawatan PTT memiliki peran vital dalam menjaga kedaulatan komunikasi.
Para pemuda dan pekerja PTT berjuang mengambil alih kantor-kantor komunikasi dari pendudukan Jepang.Mereka mempertahankan jaringan kabel telegraf dari sabotase pasukan Sekutu.
Melalui kabel telegraf dan pemancar radio sederhana milik Jawatan PTT, berita proklamasi kemerdekaan Indonesia serta instruksi-instruksi penting pemerintah dapat disebarkan ke berbagai daerah di Nusantara dan bahkan ke mancanegara.
Stilasi Bandung Lautan Api & Tugu Domei (Sultan Agung)
techpedisi kemudian berlanjut ke area yang lebih kasual namun penuh makna sejarah. Kami menyusuri Jalan Sultan Agung, di mana terdapat salah satu Stilasi (Tugu Tanda) Bandung Lautan Api dan Tugu Domei.
Di lokasi ini, terdapat Tugu Domei, yang menandai kantor berita Domei atau gedung De Driekleur (cikal bakal Kantor Berita Antara) yang berperan penting menyebarkan berita kemerdekaan ke pelosok Jawa Barat. Pada 17 Agustus 1945 sekitar pukul 12.00 WIB, kantor berita Domei Bandung menerima teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta melalui saluran telegram.
Meski tentara Jepang menjaga ketat dan melarang penyebaran berita tersebut untuk menjaga status quo, Bupati Bandung saat itu (Suriasaputra) mendesak Domei Bandung untuk memperbanyak dan mencetak buletin teks proklamasi. Melalui lembaran buletin cetakan Domei inilah rakyat Bandung untuk pertama kalinya membaca dan mengetahui secara resmi bahwa Indonesia telah merdeka. Buletin ini juga dikirim ke stasiun radio untuk disiarkan lebih luas.
Jalan Sultan Agung, yang kini dikenal sebagai pusat café dan budaya urban di Bandung Utara, dulunya merupakan saksi peristiwa heroik Bandung Lautan Api pada Maret 1946. Di sinilah warga dan pejuang membakar rumah mereka sendiri agar tidak digunakan oleh tentara NICA.
Tugu Stilasi di Jalan Sultan Agung ini juga menandai lokasi strategis di mana instruksi pembumihangusan dari Markas Dewan Divisi III Siliwangi dikomunikasikan. Jaringan komunikasi tua Jawatan PTT, yang kini diwarisi dan dikembangkan oleh Telkom Indonesia, menjadi urat nadi penting dalam koordinasi peristiwa tersebut.
Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) dan Area Asia Afrika-Braga
Titik akhir eksplorasi Techpedisi hari ini adalah jantung sejarah diplomasi Indonesia: Jalan Asia Afrika. Kami memasuki Gedung Merdeka, yang kini menjadi Museum Konferensi Asia Afrika.
Gedung Merdeka adalah tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, sebuah peristiwa monumental yang menyatukan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk melawan kolonialisme dan mempromosikan perdamaian dunia. Berjalan di lorong utama gedung ini, tim seakan merasakan semangat solidaritas dan optimisme masa itu.
Pemanfaatan Perangkat AI untuk Jurnalisme Mobile
Dalam techpedisi kali ini tim teknobuzz menggunakan Samsung Galaxy S26 Ultra sebagai perangkat utama. Dilengkapi dengan Galaxy AI, perangkat ini bisa jadi daily driver yang produktif buat jurnalisme mobile. Kita bisa melakukan riset mengenai destinasi sejarah yang bakal kita kunjungi.
Untuk menunjang produktivitas Samsung menyematkan berbagai fitur Galaxy Ai seperti Photo Assist, Circle to Search 3.0, Agentic AI , dan Now Nudge yang akan kita manfaatkan selama techpedisi. Fitur AI yang ada di Galaxy S26 series ini bisa memberikan informasi gedung-gedung bersejarah yang ada di sekitar.
Galaxy S26 series ini juga punya Photo Assist yang bisa membantu kita berkreasi dengan foto. Dengan fitur ini kita bisa menghapus objek yang mengganggu di latar belakang, cukup dengan memberi instruksi suara/teks.
“Ngga cuma canggih, efisiensi baterainya juga bikin liputan seharian di Bandung tetap aman. Galaxy S26 Ultra bener-bener definisi AI smartphone ideal buat daily driver,” ungkap Indra.
Merdeka Digital Bersama Telkom Indonesia

Selama Techpedisi di area Jalan Asia Afrika dan Braga, sinyal 5G Telkomsel (bagian dari Telkom Indonesia) sangat stabil dan kuat.
“Dukungan Telkom Indonesia dalam kegiatan Techpedisi Kemerdekaan Bandung ini bukan sekadar tentang konektivitas internet. Ini adalah perwujudan komitmen Telkom untuk menjaga sinyal kedaulatan digital bangsa dan menjadi motor transformasi digital yang menopang kedaulatan data nasional. Dari telegraf morse di Museum Pos hingga ekosistem 5G dan Data Center NeutraDC saat ini, Telkom terus menghubungkan Nusantara,” jelas Indra.
Techpedisi Kemerdekaan Bandung bukan hanya perjalanan untuk mengenang masa lalu. Ini adalah pembuktian bahwa teknologi masa depan, seperti Galaxy AI di Samsung Galaxy S26 Series dan konektivitas modern Telkom Indonesia, dapat membantu kita untuk lebih dalam memahami, menghargai, dan menyebarkan narasi patriotisme kemerdekaan Indonesia.
Merdeka Digital!


