TEKNOBUZZ – Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) telah menggelar panel diskusi strategis bertajuk “Managing Communication in the AI Era: Strengthening Media’s Role as a Strategic Partners for Brand/Corporate”. Diskusi yang mempertemukan berbagai praktisi Public Relations (PR), pimpinan redaksi, dan perwakilan merek teknologi terkemuka ini menyoroti lanskap komunikasi yang berubah drastis akibat Kecerdasan Buatan (AI) dan disrupsi digital hingga peran krusial media arus utama dalam menangani krisis korporasi.
Diskusi ini berlangsung interaktif dengan menghadirkan perspektif tajam dari para panelis, di antaranya Uday Rayana (Pemimpin Redaksi Selular/Moderator), Bambang Moegono (Founding Board Member Strategic Asia Marketing Alliance Indonesia (SAMA)), serta rujukan mendalam pada riset yang dipaparkan oleh Hamzah (Pemimpin Redaksi Telset).
AMATI merilis temuan riset komprehensif yang membedah pergeseran fundamental lanskap kehumasan (Public Relations) di era Kecerdasan Buatan (AI).
Salah satu temuan paling krusial dari riset ini berada pada lapisan “AI Presence”. Riset dari AMATI menggarisbawahi perubahan perilaku audiens yang kini lebih sering bertanya langsung kepada AI dibandingkan membaca artikel. Namun, riset ini membuktikan bahwa AI tidak memiliki opini sendiri; setiap jawaban AI bersumber dari jurnalisme yang ditulis dan diterbitkan oleh media.
Sebuah studi kasus konkret dalam riset ini membedah narasi ‘Kecerdasan Buatan’ (Artificial Intelligence) di ranah ponsel pintar. Riset menemukan bahwa merek Samsung secara dominan menguasai 64% narasi terkait ‘Kecerdasan Buatan’ di media massa Indonesia. Akibat dari dominasi pemberitaan media ini, narasi tersebut mengendap ke dalam model AI.
Hasilnya, saat ditanya mengenai “HP dengan fitur AI terbaik”, tiga platform AI terbesar yang berbeda (Claude, Gemini, dan ChatGPT), secara serempak memberikan jawaban yang sama: merekomendasikan produk Samsung (seperti Galaxy S24 Ultra).
“Liputan media hari ini akan menjadi jawaban AI di hari esok, dan pada akhirnya akan menjadi fondasi kepercayaan publik di lusa hari,” kata Hamzah dalam presentasi di acara dikusi dan deklarasi AMATI di Jakarta.
Era Konvergensi dan Kerancuan Definisi KOL

Mengawali diskusi, Bambang menyoroti paparan riset dari Hamzah mewakili AMATI mengenai ledakan data dan pergeseran pola komunikasi yang kini tidak lagi berjalan linear. Bambang menyebut masa ini sebagai “era konvergensi”, kondisi ketika ancaman terhadap reputasi brand bisa datang dari mana saja, bahkan dari perilaku staf internal perusahaan yang kemudian diamplifikasi oleh publik di media sosial.
Terkait strategi komunikasi brand saat ini, Bambang memberikan kritik tajam mengenai kerancuan industri dalam memahami konsep Key Opinion Leader (KOL) yang sering kali disamakan dengan buzzer berbayar.
“Sekarang banyak sekali yang didefinisikan sebagai KOL tapi dia hanya punya kekuatan untuk buzzing, jadi rancu ya antara KOL dengan buzzer sebenarnya,” tegas Bambang.
Ia mengingatkan kembali esensi dasarnya: “Yang KOL adalah satu entah itu person entah itu lembaga tapi expert dan menguasai bidangnya yang mampu menghadirkan pesan yang kredibel, bereputasi dan didasari oleh expertise,” jelasnya.
Krisis Korporasi: Media sebagai Pembangun Reputasi, Bukan Influencer
Berbicara mengenai manajemen krisis, Uday selaku moderator dan panelis mengingatkan kembali beberapa studi kasus krisis besar yang pernah menimpa korporasi, seperti kasus keluhan pasien RS Omni hingga isu halal di restoran Solaria.
Uday menegaskan bahwa pada titik krisis yang mengancam keberlangsungan bisnis, perusahaan tidak bisa menyandarkan nasibnya pada influencer, melainkan harus kembali kepada medi.
“Reputasi itu kan jujur saja kalau kami sebagai media masih melihat reputasi itu di-build oleh media bukan oleh influencer faktanya,” ungkap Uday.
Ia menjelaskan bahwa peran influencer lebih condong pada dorongan konversi penjualan sesaat atau product oriented, sementara fondasi kepercayaan publik (trust) hanya bisa dibentuk melalui validasi jurnalistik di media.
Pandangan ini diamini sepenuhnya oleh Bambang. Ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, media massa tidak menerima bayaran untuk memutarbalikkan fakta, sehingga posisinya sangat kuat untuk membangun trust di mata publik.
“Media tetap menjadi satu aktor utama, satu aktor terpenting dalam situasi apapun termasuk dalam crisis sebagai partner dari teman-teman komunikasi sebagai partner validasi,” kata Ben.
Lebih jauh, Ben menambahkan, “Publik akan melihat bahwa apa yang disampaikan oleh media adalah informasi yang memang terpercaya. Berbeda dengan akun-akun yang memang paid itu ya ibaratnya memang diposisikan sebagai buzzer,” tandasnya.
AI Mensintesis Berita: Peluang Emas bagi Media
Terkait ancaman AI yang dipaparkan oleh Hamzah, ketika mesin pencari AI kini mensintesis kebenaran baru dari potongan-potongan berita di internet, para panelis sepakat bahwa hal ini bukanlah akhir dari media massa, melainkan peluang baru.
AI dinilai tidak akan gegabah mengambil referensi dari akun-akun media sosial yang tidak kredibel karena hal itu akan menghancurkan reputasi mesin AI itu sendiri. Oleh karena itu, AI akan selalu bergantung pada karya jurnalistik media terpercaya.
Diskusi juga berlangsung interaktif dengan para hadirin yang juga pelaku industri mengemukakan pendapatnya. Diskusi merujuk pada sebuah kesamaan persepsi, media konvensional saat ini memegang peran ganda yang krusial bagi sebuah brand. Di satu sisi, media menjadi penyuplai kebenaran bagi mesin AI masa kini dan masa depan. Di sisi lain, media tetap menjadi benteng pertahanan dan mitra validasi yang paling diandalkan saat perusahaan menghadapi potensi krisis dari kebisingan media sosial.
Menutup diskusi, Bambang memberikan pandangan optimis kepada rekan-rekan media yang tergabung dalam AMATI untuk tidak gamang dan terus berinovasi memanfaatkan AI sebagai alat pembaca profil audiens demi memenangkan persaingan bisnis.
“Era AI saya rasa tidak akan membunuh media kalau bisa mengoptimalkan secara optimal. Justru di era AI inilah teman-teman media bisa mencari solusi agar kembali lagi nih memegang hegemoni pendistribusian media kepada publik,” pungkas pria yang akrab disapa Bem.
Deklarasi AMATI

Bersamaan dengan acara diskusi, Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) juta menggelar acara deklarasi pendirian Asosiasi. Didirikan untuk merespon perkembangan terkini di industri seperti era transformasi digital dengan perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) yang masif serta dinamika media sosial telah mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.
Oleh karena informasi teknologi yang akurat, kredibel, dan tervalidasi adalah hak dasar masyarakat. Serta menjadi pondasi utama bagi kemajuan ekosistem digital nasional, maka, di tengah banjir informasi dan kebisingan digital (digital noise), diperlukan peran media profesional yang berfungsi sebagai kompas strategis guna memberikan arah yang benar bagi publik dan pemilik merek (brand).
Pendirian AMATI bertumpu pada empat komitmen utama untuk mengamankan masa depan jurnalisme teknologi di Indonesia:
- Menjadi Pilar Kredibilitas: AMATI berkomitmen menjaga integritas jurnalistik di atas kepentingan algoritma, memastikan setiap informasi teknologi yang disajikan melalui platform masing-masing media anggota kami telah melalui proses verifikasi yang ketat.
- Menjamin Keamanan Merek (Brand Safety): AMATI berjanji menyediakan ekosistem media yang sehat dan aman bagi mitra strategis kami, yakni para pemilik merek dan praktisi komunikasi, guna membangun reputasi yang berkelanjutan di tengah tantangan AI.
- Adaptasi Teknologi yang Etis: AMATI akan memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, tanpa mengorbankan kualitas intelektual dan sentuhan manusia yang menjadi inti dari kepercayaan publik.
- Membangun Ekosistem Digital Nasional: AMATI siap menjadi mitra strategis pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mengawal kebijakan serta tren teknologi global demi kemajuan Indonesia.
Acara diskusi “Managing Communication in the AI Era: Strengthening Media’s Role as a Strategic Partners for Brand/Corporate” yang diselenggarakan oleh AMATI, didukung oleh Telkom Indonesia, Advo dan Samsung. Acara ini menjadi tonggak baru dalam industri, AMATI sendiri akan secara rutin menggelar diskusi strategis yang relevan dengan kondisi terkini.


