TEKNOBUZZ – Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi sepanjang 2026. Indeks Ketidakpastian Dunia (World Uncertainty Index/WUI) bahkan melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Februari 2026, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.
Di Indonesia, tekanan juga terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (YoY) mencapai sekitar 3,48 persen per Maret 2026.
Kenaikan ini didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah dan harga pangan bergejolak, yang turut mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Kondisi ini membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengelola keuangan.
Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan peningkatan porsi tabungan menjadi 17,7 persen pada Februari 2026. Fenomena ini mencerminkan tren precautionary saving atau kecenderungan menyimpan dana lebih banyak untuk menghadapi ketidakpastian.
Baca juga: Bantu UMKM Naik Kelas, DANA Gelar SisBerdaya dan DisBerdaya 2026
Namun, menyimpan dana dalam bentuk tunai saja dinilai bukan solusi ideal.
“Menumpuk dana dalam bentuk tunai dalam jangka panjang berisiko tergerus inflasi, sehingga nilai riilnya dapat menurun,” ujar Ivan Kusuma, Head of Investment and Insurance DANA, melalui keterangan resminya.
Ivan menambahkan bahwa masyarakat perlu mulai mempertimbangkan diversifikasi aset.“Memegang kas sebaiknya dilakukan secukupnya untuk kebutuhan likuiditas dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dialokasikan ke aset yang memiliki potensi menjaga nilai terhadap inflasi,” ungkap Ivan.
Instrumen seperti emas dan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi pilihan yang relatif stabil. SBN menawarkan imbal hasil melalui kupon serta dijamin oleh pemerintah, sehingga memiliki tingkat keamanan tinggi meski tetap mengikuti dinamika pasar.
Menurut Ivan, investor pemula sebaiknya fokus pada kestabilan.
“Untuk investor pemula, fokus pada instrumen yang relatif stabil dan membangun portofolio secara bertahap jauh lebih penting dibandingkan mengejar imbal hasil tinggi,” jelas Ivan.
Ivan juga menepis anggapan bahwa investasi obligasi membutuhkan modal besar.
“Saat ini sudah banyak produk yang bisa dimulai dari Rp1 juta. Ini membuka peluang bagi lebih banyak orang, terutama anak muda, untuk mulai berinvestasi,” tambah Ivan.
Kini, akses investasi semakin mudah melalui aplikasi DANA. Pengguna dapat membeli e-SBN secara praktis dan aman melalui mitra distribusi resmi pemerintah.
Berbagai produk seperti ORI, SR, SBR, dan ST tersedia mengikuti jadwal penerbitan pemerintah.
“Dengan dukungan teknologi dan keamanan berlapis, DANA ingin membuat investasi jadi lebih mudah diakses dan tidak terasa rumit. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang berani memulai dan mampu membangun stabilitas finansial yang lebih sehat ke depan,” tutup Ivan.


