2.2 C
New York
Tuesday, April 21, 2026

Buy now

Masa Depan Digital: Mengapa Data Center Menjadi Jantung Ekonomi Indonesia?

TEKNOBUZZ – Indonesia kini memasuki fase strategis dalam ekonomi digital kawasan. Berdasarkan data terbaru, Indonesia diprediksi menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 120 juta pengguna TikTok. Hal ini menunjukkan betapa masifnya konsumsi data nasional.

Bagi Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), kondisi ini menegaskan satu hal, yaitu data center bukan lagi infrastruktur pendukung, melainkan fondasi utama ekonomi digital. Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma, menilai lonjakan aktivitas digital ini menjadi sinyal kuat bagi investor global.

“Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik karena siklus pertumbuhan digitalnya masih panjang dan berkelanjutan,” ujar Hendra disela acara Indonesia Digital Outlook 2026 bertema “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Digital Future” yang digelar Teknobuzz ID dan media partner di Habitate Jakarta.

Data Center sebagai Hulu Transformasi Digital Nasional

Berdasarkan data terbaru dari IDPRO, pada Januari 2024, Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam adopsi perangkat digital dan layanan internet. Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Indonesia mencapai 278,7 juta jiwa, meningkat 0,8% dibandingkan tahun sebelumnya atau bertambah sekitar 2,3 juta orang. Angka ini mencerminkan laju pertumbuhan populasi yang masih stabil.

Dari sisi konektivitas, jumlah koneksi seluler di Indonesia tercatat mencapai 353,3 juta koneksi. Angka ini setara dengan 126,8% dari total populasi, yang menunjukkan bahwa banyak masyarakat menggunakan lebih dari satu kartu SIM atau perangkat seluler. Jumlah koneksi ini tumbuh 0,7% secara tahunan atau bertambah sekitar 2,5 juta koneksi.

Sementara itu, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 185,3 juta orang. Angka ini setara dengan 66,5% dari total populasi, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 0,8% atau sekitar 1,5 juta pengguna baru. Data ini menunjukkan bahwa akses internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, meski masih ada ruang untuk peningkatan pemerataan akses.

Di sisi media sosial, Indonesia memiliki 139 juta identitas pengguna media sosial, atau sekitar 49,9% dari total populasi. Berbeda dengan indikator digital lainnya, jumlah pengguna media sosial tercatat tidak mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya, alias stagnan di angka 0%.

Menurut Hendra, angka tersebut adalah key driver utama pertumbuhan industri data center karena seluruh aktivitas digital bermuara pada pemrosesan data.Hendra menegaskan bahwa data center adalah hulu dari transformasi digital.

“UMKM yang sudah menggunakan payment gateway, hingga pabrik yang mengadopsi otomatisasi tanpa manusia di lini produksi, semuanya bergantung pada data center. Artinya, semakin dalam digitalisasi terjadi di sektor UMKM, manufaktur, dan layanan publik, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data yang andal di dalam negeri,” jelas Hendra.

Data Center Penopang Ekonomi 2030

“Transformasi digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Dengan proyeksi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai GMV US$350 miliar pada tahun 2030, peran infrastruktur pusat data menjadi krusial sebagai elemen dasar ekosistem tersebut,” papar Hendra.

Berdasarkan data terbaru IDPRO, Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi daring Indonesia diproyeksikan melonjak drastis dari $8 miliar pada 2017 menjadi $135 miliar pada 2025. Pertumbuhan masif ini didorong oleh lebih dari 30 juta pembeli aktif, di mana sektor social commerce dan e-tailing menjadi pilar utama.

Fenomena ini menciptakan ketergantungan yang tinggi terhadap konektivitas, terutama bagi sektor UMKM yang mencakup 99,9% unit usaha di Indonesia, atau sekitar 62,9 juta unit, yang kini mulai bertransformasi ke ekosistem digital. Lonjakan trafik data ini menuntut kesiapan infrastruktur Data Center yang mumpuni.

Saat ini, klasifikasi pusat data bervariasi mulai dari Micro Data Center untuk kebutuhan IoT lokal hingga skala Hyperscaler dengan kapasitas daya di atas 100 MW. Menariknya, perbandingan kapasitas data center antara Indonesia dan Singapura menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar.

Meski populasi Indonesia jauh lebih besar (274 juta jiwa), total kapasitas pusat data kita masih terus mengejar ketertinggalan untuk mendukung kedaulatan data nasional dan efisiensi operasional perusahaan teknologi global maupun lokal. Investasi di sektor infrastruktur digital menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama. Dengan target kapasitas total mencapai 1,3 Gigawatt pada 2024, pengembangan Medium hingga Large Colocation Data Center terus dipacu.

“Sinergi antara penyedia layanan infrastruktur dan pelaku ekonomi digital diharapkan mampu menopang beban komputasi dari sektor Fintech dan E-commerce yang kian kompleks. Pembangunan data center yang terintegrasi akan memastikan akses data yang lebih cepat, aman, dan handal bagi seluruh lapisan masyarakat di masa depan,” ungkap Hendra.

Fokus Kualitas, Bukan Sekadar Kapasitas

Bagi IDPRO, masa depan industri data center Indonesia bukan hanya soal menambah kapasitas, tetapi meningkatkan kualitas. Dengan kebutuhan transfer data hingga 1 terabyte per detik dan pertumbuhan AI yang eksponensial, desain dan alignment infrastruktur menjadi krusial.

“Indonesia punya semua modal untuk menjadi pemain utama. Tugas kita sekarang adalah memastikan ekosistemnya siap dan lebih baik,” tutup Hendra.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles