12.6 C
New York
Sunday, April 19, 2026

Buy now

Cegah Brain Rot pada Anak, Komdigi Dorong Literasi AI

TEKNOBUZZ — Kemudahan masyarakat Indonesia dalam mengakses platform kecerdasan artifisial (AI), mendorong pentingnya pendidikan literasi digital bagi masyarakat tentang cara menggunakan AI dengan bijak.

Untuk itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan platform AI saat ini sudah sangat populer digunakan oleh pengguna dari berbagai usia, termasuk anak-anak.

Penggunaan teknologi AI yang tidak tepat bisa menimbulkan dampak negatif, contohnya anak-anak yang terbiasa menggunakan AI sejak usia dini dapat memiliki ketergantungan terhadap AI dan menurunkan kemampuan berpikir (brain rot).

“Yang kita takutkan, bukan anak-anak tambah cerdas dengan AI, yang terjadi adalah brain rot. Karena otak anak-anak tidak maksimal dipakai, semuanya tergantung sama AI,” kata Nezar saat bertemu perwakilan Indonesia AI Institute, seperti dikutip situs resmi Komdigi.

Sekedar informasi, Brain rot adalah istilah populer untuk penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital yang berlebihan, dangkal, dan berulang. Kondisi ini tidak secara harfiah membusukkan otak, tetapi menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis, sulit fokus, dan daya ingat yang melemah karena otak terbiasa dengan stimulasi cepat dan instan.

Oleh karena itu, literasi terhadap orang tua dan guru menjadi penting untuk mencegah anak-anak mengalami ketergantungan pada AI.

Wamen Nezar mengapresiasi inisiatif Indonesia AI Institute yang telah melakukan literasi kepada masyarakat tentang risiko-risiko yang dapat terjadi akibat penggunaan AI.

Menurut Wamen Nezar, kolaborasi antara Kemkomdigi dan Indonesia AI Institute akan memastikan Indonesia tidak hanya memiliki talenta-talenta digital di bidang AI, tapi juga masyarakat yang mampu memanfaatkan AI dengan bijak.

Kemkomdigi memiliki beberapa program pengembangan AI di Indonesia, salah satunya adalah AI Talent Factory yang bertujuan mencetak talenta-talenta digital sekaligus menyediakan ekosistem untuk melakukan riset agar menghasilkan produk yang dapat bersaing di tingkat global.

“Tujuan kita menyiapkan AI talent yang global standard dan sekaligus menjadikan mereka developer, bukan cuma user saja, dan kita harus menyiapkan ekosistem juga yang dapat memanfaatkan kemampuan mereka,” jelas Nezar.

Tidak hanya mencetak talenta digital, pemerintah juga menyiapkan regulasi agar adopsi AI di Indonesia dilakukan secara etis dan bertanggung jawab.

Kemkomdigi telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang menjadi pedoman bagi platform AI untuk menaati regulasi yang berlaku di Indonesia, seperti UU ITE dan UU PDP, serta memegang prinsip transparansi dan akuntabilitas. Regulasi ini nantinya akan diperkuat dengan Peta Jalan AI Nasional dan Perpres Etika AI.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles