TEKNOBUZZ – Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, kembali menyoroti pentingnya tanggung jawab sosial industri game dalam melindungi anak dari konten kekerasan yang terdapat dalam game tersebut.
Dalam acara Indonesian Woman in Game (IWIG) BeautyPlayConnect di Bandung, ia menegaskan bahwa pertumbuhan industri game harus diiringi dengan kepedulian terhadap ekosistem digital yang aman bagi generasi muda.
“Banyak game lokal yang inovatif dan membanggakan, tapi di sisi lain kami juga menerima keluhan dari orang tua terkait paparan kekerasan digital terutama dalam konten game terhadap anak,” kata Meutya di hadapan para pengembang game perempuan, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Menurut Meutya, Pemerintah Republik Indonesia (RI), lanjutnya, telah mengambil langkah tegas melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS. Regulasi ini mewajibkan seluruh penyelenggara sistem elektronik, termasuk pengembang dan penerbit gim, untuk menerapkan klasifikasi usia secara ketat.
Baca juga: Komdigi Beri Peringatan 7 PSE yang Belum Daftar, Siapa Saja?
“Ini bukan soal melarang, tapi menunda akses konten yang belum waktunya diterima oleh anak. Kita bicara soal tanggung jawab bersama,” tegas Meutya.

Meutya menyebutkan bahwa sistem rating konten seperti Indonesia Game Rating System (IGRS) harus menjadi standar utama dalam industri gim nasional. IGRS, menurutnya, bukan hanya panduan bagi orang tua, tapi juga pelindung hukum bagi para pelaku industri.
“IGRS membantu industri menghindari risiko hukum karena memasarkan produk secara tidak sesuai,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, Meutya juga menyampaikan bahwa tren global saat ini menunjukkan peningkatan tuntutan terhadap industri gim untuk berperan aktif dalam perlindungan digital.
“Gerakan serupa sudah berlangsung di banyak negara. Kita tidak bisa tertinggal,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran para perempuan di dunia pengembangan gim.
“Saya senang karena semakin banyak perempuan menjadi kreator teknologi, bukan hanya pengguna,” ujarnya usai mencoba langsung beberapa gim karya developer perempuan.
Dalam acara tersebut, turut hadir pula Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah serta Staf Khusus Menteri Alfreno Kautsar Ramadhan. Keduanya menyatakan dukungan terhadap penguatan peran perempuan di industri game serta pentingnya keseimbangan antara kreativitas dan tanggung jawab digital.


