TEKNOBUZZ — Persaingan internet rumah di Indonesia mulai mendapat tekanan dari teknologi Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G. Berbeda dengan layanan fiber optik yang membutuhkan penarikan kabel hingga rumah pelanggan, FWA memanfaatkan jaringan radio untuk menghadirkan koneksi broadband tetap.
Salah satu pemain yang memperluas layanan tersebut adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) melalui anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama, dengan merek Internet Rakyat.
Dalam pengumuman pada 8 Oktober 2026, SURGE menyatakan telah mengaktifkan lebih dari 3.100 site Internet Rakyat dalam tujuh bulan. Jaringan tersebut diklaim menjangkau hingga 3,1 juta rumah tangga dan telah beroperasi secara komersial di lebih dari 94 kota dan kabupaten di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua.
Perusahaan menargetkan jumlah site meningkat menjadi 5.500 hingga akhir 2026.
Ekspansi tersebut menunjukkan upaya membangun alternatif layanan internet rumah yang tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan kabel hingga pelanggan.
Internet Rumah Tanpa Menunggu Penarikan Kabel
Keunggulan utama FWA terletak pada proses penyediaan koneksi. Jika jaringan dan kapasitas radio sudah tersedia, pelanggan dapat menggunakan perangkat penerima di rumah tanpa menunggu pemasangan kabel fiber hingga ke bangunan.
Internet Rakyat menawarkan layanan dengan kecepatan hingga 100 Mbps, kuota tanpa batas, serta tarif reguler Rp100.000 per bulan. Berdasarkan informasi perusahaan, layanan ini juga dirancang tanpa biaya instalasi dan biaya sewa modem.
Pada September 2026, SURGE mengumumkan cakupan penuh Internet Rakyat di sepuluh kota di Pulau Jawa, yakni Surakarta, Banjar, Pekalongan, Blitar, Tegal, Probolinggo, Mojokerto, Cilegon, Pasuruan, dan Kediri.
Perluasan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kepadatan dan cakupan jaringan, bukan hanya menambah jumlah kota yang dilayani.
Meski demikian, cakupan jaringan yang tersedia tidak selalu berarti setiap alamat memiliki kualitas sinyal dan kapasitas yang sama. Ketersediaan layanan di alamat pelanggan tetap perlu diperiksa.
FWA dan Fiber Memiliki Karakteristik Berbeda
Persaingan FWA dengan fiber tidak bisa hanya dinilai dari harga paket dan kecepatan maksimum yang diiklankan.
Fiber optik menggunakan kabel untuk menghubungkan jaringan hingga lokasi pelanggan. Teknologi ini berpotensi memberikan koneksi yang stabil dan kapasitas tinggi, selama jaringan serta perangkat pendukungnya dirancang dengan baik.
Sementara itu, FWA memanfaatkan spektrum radio. Model ini memungkinkan ekspansi lebih cepat di wilayah yang sulit atau belum ekonomis untuk dibangun jaringan fiber hingga setiap rumah.
Namun, performa FWA dapat dipengaruhi kondisi propagasi radio, jarak dan arah perangkat terhadap site, hambatan fisik, kapasitas jaringan, serta jumlah pelanggan yang menggunakan sumber daya radio secara bersamaan.
Dengan demikian, kecepatan hingga 100 Mbps yang ditawarkan Internet Rakyat merupakan batas kecepatan yang diiklankan, bukan jaminan bahwa setiap pelanggan akan selalu mendapatkan kecepatan tersebut sepanjang hari.
Persaingan Tidak Hanya Datang dari Fiber
Pasar FWA Indonesia juga memiliki pemain lain. MyRepublic, misalnya, telah memperkenalkan MyRepublic Air sebagai layanan internet rumah berbasis FWA 5G yang ditujukan untuk memperluas akses ke kawasan yang belum terjangkau fiber.
Kehadiran beberapa penyedia menunjukkan bahwa FWA mulai diposisikan sebagai salah satu pilihan dalam pasar fixed broadband, bukan semata-mata teknologi pelengkap jaringan seluler.
Bagi konsumen, semakin banyak pilihan berpotensi memperluas akses internet rumah. Namun, perbandingan antarlayanan perlu memperhatikan harga reguler setelah promo, biaya perangkat, ketentuan penggunaan, kualitas jaringan, dan layanan pelanggan.
Bagi operator, tantangannya adalah menemukan kombinasi harga, kapasitas, dan cakupan yang dapat menghasilkan pertumbuhan pelanggan sekaligus menjaga efisiensi investasi.
Tantangan Terbesar: Kapasitas dan Kualitas Layanan
Perluasan jaringan FWA tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah site. Perusahaan juga harus memastikan kapasitas radio mampu mengikuti pertumbuhan pelanggan di setiap wilayah.
Ketika jumlah pengguna meningkat, kapasitas jaringan perlu ditingkatkan agar kualitas layanan tetap terjaga, terutama pada jam sibuk ketika penggunaan internet rumah biasanya tinggi.
Selain itu, operator perlu mengelola pengalaman pelanggan mulai dari proses registrasi, aktivasi perangkat, kestabilan koneksi, hingga penanganan gangguan.
Bagi SURGE, target 5.500 site pada akhir 2026 akan menjadi salah satu indikator ekspansi. Namun, keberhasilan bisnis juga perlu dinilai melalui jumlah pelanggan aktif, tingkat pemanfaatan jaringan, pendapatan per pelanggan, dan kualitas layanan yang benar-benar diterima pengguna.
Akankah FWA Menggeser Fiber?
FWA berpotensi memperbesar pasar internet rumah dengan menjangkau kawasan yang belum terlayani fiber secara memadai. Teknologi ini juga dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang membutuhkan koneksi tanpa proses pemasangan kabel yang panjang.
Namun, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa FWA akan menggantikan fiber secara luas. Keduanya memiliki karakteristik teknis dan kebutuhan investasi yang berbeda.
Dalam banyak kasus, kedua teknologi justru dapat saling melengkapi: fiber untuk wilayah dengan kebutuhan kapasitas tinggi dan jaringan kabel yang ekonomis, sedangkan FWA untuk memperluas akses secara lebih fleksibel.
Persaingan internet rumah berikutnya bukan sekadar siapa yang menawarkan harga paling murah, melainkan siapa yang mampu menyediakan koneksi stabil, terjangkau, dan sesuai kebutuhan pelanggan.


