13.7 C
New York
Tuesday, October 13, 2026

Buy now

Kapan 5G Indonesia Makin Kencang?

TEKNOBUZZ — Persaingan jaringan 5G di Indonesia memasuki tahap baru setelah pemerintah menetapkan pemenang seleksi pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli 2026. Namun, manfaat yang paling dinantikan pelanggan bukan sekadar bertambahnya spektrum operator, melainkan peningkatan kecepatan, stabilitas, dan jangkauan internet seluler.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyelesaikan seleksi kedua pita frekuensi tersebut pada Juli 2026. Ketiganya dialokasikan kepada PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel, dan PT Indosat Tbk, dengan besaran blok berbeda pada masing-masing pita.

Pada pita 700 MHz, XLSMART memperoleh blok 30 MHz atau 2×15 MHz dengan nilai penawaran Rp1,06 triliun. Telkomsel memperoleh 20 MHz atau 2×10 MHz senilai Rp642,5 miliar, sedangkan Indosat memperoleh 20 MHz atau 2×10 MHz senilai Rp507,48 miliar.

Sementara itu, pada pita 2,6 GHz, Telkomsel memperoleh 80 MHz senilai Rp545,84 miliar, Indosat mendapatkan 60 MHz senilai Rp372 miliar, dan XLSMART memperoleh 50 MHz senilai Rp231,6 miliar.

Perbedaan alokasi ini memberikan tambahan sumber daya spektrum bagi ketiga operator untuk mengembangkan jaringan seluler, termasuk memperluas kapasitas layanan 5G.

Dua Frekuensi, Dua Fungsi Berbeda

Pita 700 MHz memiliki karakteristik propagasi yang mendukung jangkauan lebih luas dan penetrasi sinyal ke dalam bangunan. Karakteristik ini membuatnya relevan untuk memperluas layanan ke kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan cakupan.

Adapun pita 2,6 GHz dapat menyediakan kapasitas jaringan tambahan yang dibutuhkan untuk menangani trafik data tinggi, terutama di kawasan perkotaan dan wilayah dengan kepadatan pengguna besar.

Kombinasi keduanya berpotensi membantu operator menjawab dua tantangan sekaligus: memperluas jangkauan dan meningkatkan kapasitas jaringan.

Meski demikian, tambahan spektrum tidak otomatis membuat seluruh pelanggan langsung merasakan peningkatan kecepatan. Hasil akhirnya tetap bergantung pada pembangunan jaringan, konfigurasi radio, ketersediaan perangkat yang kompatibel, kapasitas jaringan transport, serta kepadatan pengguna.

Target 5G Menjangkau 51% Populasi

Komdigi menetapkan kewajiban bagi pemenang seleksi untuk menyediakan layanan 5G dengan cakupan sedikitnya 51% populasi nasional dalam jangka waktu paling lama lima tahun.

Selain itu, para pemenang diwajibkan menyediakan layanan 4G di 538 desa dan kelurahan yang telah ditentukan pemerintah dalam periode yang sama.

Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa penambahan spektrum tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas jaringan di kota besar, tetapi juga mendukung pemerataan konektivitas.

Komdigi turut menetapkan sasaran peningkatan kecepatan rata-rata mobile broadband secara bertahap menjadi 100 Mbps pada 2029. Angka tersebut merupakan target pemerintah, bukan gambaran kecepatan yang sudah dinikmati seluruh pengguna saat ini.

Tantangan Berikutnya Ada pada Investasi Jaringan

Setelah proses seleksi selesai, perhatian industri beralih pada implementasi. Operator perlu mengalokasikan investasi untuk perangkat radio, pembangunan atau peningkatan BTS, jaringan transport, serta optimalisasi spektrum baru.

Operator juga harus menentukan wilayah yang diprioritaskan, terutama kawasan dengan trafik tinggi, daerah yang belum terlayani secara memadai, dan lokasi yang memiliki potensi pertumbuhan pelanggan.

Bagi pelanggan, indikator keberhasilan tidak cukup berupa bertambahnya jumlah BTS atau luas cakupan yang diumumkan. Pengujian kecepatan unduh dan unggah, latensi, stabilitas koneksi di dalam bangunan, serta kualitas layanan pada jam sibuk diperlukan untuk mengukur dampak sesungguhnya.

Di sisi lain, operator menghadapi kebutuhan menjaga efisiensi investasi. Pembangunan 5G memerlukan belanja modal, sementara manfaat komersialnya sangat dipengaruhi permintaan layanan dan kemampuan memonetisasi kapasitas jaringan tambahan.

Persaingan 5G Akan Ditentukan oleh Pengalaman Pengguna

Dengan tambahan spektrum, Telkomsel, Indosat, dan XLSMART memiliki kesempatan memperkuat posisi masing-masing dalam persaingan layanan data.

Namun, besarnya alokasi frekuensi tidak dengan sendirinya menentukan operator mana yang memberikan pengalaman terbaik. Kualitas layanan tetap dipengaruhi oleh strategi implementasi, kepadatan jaringan, kondisi geografis, dan perangkat pelanggan.

Tahap berikutnya adalah memastikan kapan spektrum baru mulai dimanfaatkan secara komersial dan di wilayah mana dampaknya dapat diukur.

Lelang frekuensi telah selesai. Kini, tantangan industri adalah membuktikan bahwa tambahan spektrum benar-benar menghasilkan internet yang lebih baik bagi masyarakat.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles