TEKNOBUZZ — Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta mencatatkan pencapaian hampir 1.000 tindakan medis menggunakan teknologi bedah robotik untuk penanganan berbagai kasus penyakit kompleks. Teknologi minimal invasif ini dipastikan aman karena pengoperasian instrumen sepenuhnya tetap dikendalikan oleh dokter spesialis, bukan oleh mesin secara otomatis.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSU Bunda Jakarta, dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS, meluruskan anggapan keliru masyarakat mengenai bedah robotik. Ia menegaskan bahwa sistem robotik tidak memiliki mode otomatis maupun kemampuan mengambil keputusan medis.
“Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan dari konsol, dari awal sampai akhir tindakan. Kalau tangan dokter diam, instrumen robotik juga diam,” kata dr. Sita di Jakarta.
Sistem robotik dilengkapi dengan fitur pemeriksaan keamanan (safety check) sebelum prosedur dimulai serta tremor filter yang berfungsi menyaring getaran tangan dokter. Fitur ini memungkinkan pergerakan instrumen di dalam tubuh pasien menjadi lebih stabil dan presisi tinggi.
Dalam bidang ginekologi, teknologi ini diterapkan pada kasus-kasus kompleks seperti mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, hingga endometriosis berat. Keunggulan teknik minimal invasif ini meliputi ukuran sayatan yang lebih kecil, tingkat presisi yang tinggi, serta masa pemulihan pasien yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan operasi terbuka.
Selain itu, pada kasus mioma di pasien usia reproduktif, presisi alat robotik membantu dokter mengangkat jaringan mioma dengan tetap mempertahankan rahim pasien.
dr. Sita sendiri merupakan dokter perempuan pertama di Indonesia yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi sejak diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta pada 2013 lalu. Kehadirannya memberikan kenyamanan ekstra bagi pasien perempuan yang memerlukan penanganan kasus reproduksi sensitif.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bundamedik Tbk (BMHS), Agus Heru Darjono, menyatakan bahwa seluruh dokter yang menangani bedah robotik di jaringan rumah sakit BMHS wajib mengikuti pelatihan dan sertifikasi khusus. Penanganan kasus kompleks juga selalu melibatkan tim medis multidisiplin.
Ia menambahkan bahwa selain kecanggihan teknologi, rekam jejak institusi dan pengalaman klinis (learning curve) tim medis yang dibangun sejak 2012 menjadi faktor penentu utama keselamatan serta keberhasilan tindakan operasi pasien.


