16.9 C
New York
Wednesday, September 16, 2026

Buy now

Festival CIPHER 2026 Ajak Publik “Retas” CCTV hingga Adu Visual Lawan AI

TEKNOBUZZ – Di tengah masifnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan maraknya ancaman kejahatan siber, memahami teknologi tidak lagi cukup sekadar menjadi pengguna. Publik dituntut paham cara kerja teknologi, menggunakannya secara bertanggung jawab, hingga menjaga keamanan diri di ruang digital.

Merespons kebutuhan tersebut, School of Computer Science BINUS University menggelar festival CIPHER 2026 (Cybersecurity and Intelligent Systems for Protection, Hacking, Engineering, and Research).

Festival teknologi berbasis komunitas ini mengusung pendekatan unik: meninggalkan konsep seminar teoretis yang membosankan dan menggantinya dengan simulasi peretasan interaktif serta eksperimen AI secara langsung.

Mengusung tema “Ecosystem Protocol – An Ecosystem that Thinks, Builds, and Grows Together”, festival CIPHER 2026 disulap menjadi zona bermain sekaligus belajar bagi masyarakat umum, mahasiswa, akademisi, hingga praktisi industri.

Mencoba Jadi Peretas hingga Detektif Siber

Salah satu daya tarik utama festival ini adalah konsep Community-Oriented Showcase atau “Hive”. Pengunjung tidak hanya duduk mendengarkan materi, melainkan terjun langsung ke simulasi Cyber Security yang dibagi menjadi tiga area:

  1. Physical Security Hive: Pengunjung bisa menjajal tantangan lock picking (membobol kunci fisik), simulasi kloning RFID, hingga mendeteksi celah kerentanan pada perangkat CCTV/IP Camera.
  2. Red Team Hive (Offensive Security): Mengajak peserta menyelami cara berpikir seorang peretas (hacker) etis melalui tantangan keamanan aplikasi web dan seluler.
  3. Blue Team Hive (Defensive Security): Pengunjung dapat berperan layaknya detektif siber yang melakukan digital forensic investigation, malware analysis, hingga pemulihan data.

“Melalui CIPHER, kami ingin menunjukkan bahwa computer science bukan hanya tentang bagaimana menciptakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami teknologi tersebut secara kritis dan menggunakannya untuk memberikan solusi,” ujar Derwin Suhartono, Dekan School of Computer Science BINUS University sekaligus Profesor bidang AI.

Bertemu “Mesin Berbicara” hingga Tantang AI Menggambar

Tak hanya keamanan siber, ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) juga dihadirkan secara visual dan interaktif melalui tiga area khusus:

  • NLP – “The Talking Machine”: Pengunjung diajak berinteraksi dengan teknologi pengolahan bahasa alami melalui Turing Test Challenge, Guess the Prompt, hingga arena Prompt Engineering.
  • Computer Vision – “The Seeing Machine”: Area visual yang menyajikan demonstrasi pengenalan wajah dan gestur secara real-time. Pengunjung dapat mencoba AI Photobooth, memecahkan Deepfake Riddles, hingga beradu kreativitas dalam Human vs AI Drawing Challenge.
  • AIoT – “Meet Your Robot Overlord”: Pameran dan lokakarya prototipe rumah pintar (smart home), pertanian pintar (smart farming), hingga teknologi perangkat pakai (wearable technology).

Chairwoman CIPHER Fest sekaligus Dosen Cyber Security, Ayu Maulina, menegaskan bahwa pengalaman praktis ini penting untuk memicu rasa ingin tahu generasi muda.

“Melalui CIPHER, kami ingin menciptakan ruang bagi peserta untuk tidak hanya mendengar tentang cybersecurity dan AI, tetapi benar-benar mengalami bagaimana cara berpikir dan bekerja di balik teknologi tersebut,” ungkap Ayu.

Titik Temu Mahasiswa, Komunitas, dan Industri

Selain arena simulasi, CIPHER 2026 juga menghadirkan Main Stage yang diisi oleh pakar industri, di antaranya Aurelius Ivan Wijaya (Lead AI Engineer Invenio Potential) dan Satria Ady Paradana (Senior Security Engineer Flip). Kehadiran para praktisi ini memberikan wawasan nyata tentang bagaimana AI dan sistem keamanan diterapkan di dunia kerja nyata.

Sebagai wujud keterbukaan ekosistem, festival ini juga menyediakan Sticker Swap and Wall, area khusus bagi pengunjung untuk bertukar stiker dan meninggalkan jejak kreativitas sebagai simbol kolaborasi komunitas.

Prof. Derwin menyimpulkan bahwa ekosistem teknologi yang tangguh tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja.

“Dibutuhkan mahasiswa yang ingin belajar, akademisi yang terus melakukan riset, industri yang membuka peluang kolaborasi, komunitas yang berbagi pengetahuan, dan masyarakat yang memiliki literasi digital. CIPHER kami hadirkan sebagai titik temu bagi seluruh elemen tersebut,” tutupnya.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles