TEKNOBUZZ — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar menjadi alat bantu teknis, melainkan telah menjelma menjadi mitra berkreasi bagi para praktisi seni dan kreator konten. Hal ini terbukti dalam ajang puncak CapCut AI Content Fest 2026 yang digelar di CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta, Kamis (11/9/2026).
Mengusung tema “Small Stories. Big Screen. One Nation”, festival film pendek berbasis AI perdana dari CapCut ini memamerkan 10 karya kreator terpilih dari berbagai daerah di Indonesia yang berhasil menembus layar lebar.
Lewat kampanye #CapCutFilmNaikLayar, acara ini menegaskan bahwa keberadaan teknologi AI mampu membuka ruang eksplorasi seni yang lebih luas tanpa mengikis esensi cerita dan rasa manusiawi di dalamnya.
AI sebagai Pendukung, Rasa Tetap Milik Manusia
Pemanfaatan teknologi dalam proses seni menjadi sorotan utama dalam diskusi panel yang menghadirkan para pelaku industri film nasional, seperti aktor Lukman Sardi, sineas Mouly Surya, dan kreator Gustav Anandhita. Ketiganya sepakat bahwa AI hadir bukan untuk menggantikan peran seniman, melainkan memperluas batas-batas eksplorasi kreatif.
Aktor senior Lukman Sardi mengungkapkan bahwa AI membantu memperkaya persiapan peran. “Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan. Dengan proses persiapan yang lebih efisien, aktor punya lebih banyak ruang untuk fokus pada bagaimana karakter tersebut diinterpretasikan dan dihidupkan,” ujar Lukman.
Senada dengan hal tersebut, sutradara Mouly Surya menilai AI sangat efisien dalam visualisasi konsep awal. Menurutnya, ketika proses persiapan teknis dapat dipangkas oleh AI, tim produksi dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk mengasah visi besar dan keputusan-keputusan kreatif karya.
Sementara itu, dari sudut pandang kreator digital, Gustav Anandhita melihat kecerdasan buatan memberikan kebebasan dalam berksperimen. “AI memberi kreator lebih banyak ruang untuk bereksperimen—mulai dari mengembangkan ide, mencoba berbagai pendekatan visual, hingga melakukan iterasi dengan lebih cepat,” tuturnya.
Mewujudkan Ide Ambisius di Layar Lebar
Kehadiran fitur penyuntingan berbasis AI di CapCut—seperti Video Studio, eksplorasi ide, hingga visualisasi storyboard—membantu kreator mengatasi batasan teknis yang selama ini kerap menghambat eksekusi ide-ide besar.
“Lewat berbagai fitur kreatif, termasuk fitur berbasis AI, kami ingin membantu kreator mencoba format, visual, dan cara bercerita yang lebih ambisius—termasuk bagi mereka yang ingin berkembang ke ranah film dan hiburan. Harapannya, semakin banyak ide yang sebelumnya terasa sulit diwujudkan dapat berkembang menjadi karya yang siap dinikmati audiens,” jelas Head of Content Operations CapCut Indonesia, Jessica Wowor.
Pemanfaatan AI dalam panggung seni ini juga ditunjukkan melalui pemutaran perdana video musik berbasis AI untuk single terbaru musisi Raim Laode, bertajuk “Dunia Yang Nanti”, yang digarap berkolaborasi dengan CapCut.
Daftar Peraih Penghargaan
Kesepuluh film pendek yang tayang di layar lebar mendapatkan penilaian langsung dari dewan juri ternama, antara lain Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita. Puncak acara ditutup dengan penganugerahan bagi para pemenang dari delapan kategori:
- Best AI Micro Film: “Bayu” karya Ilham Setyawan (Semarang)
- Best Story: “Bayu” karya Ilham Setyawan (Semarang)
- Best Visual: “Bulan Tiga Belas” karya Bobi Brilyan Bastenjar (Tangerang Selatan)
- Student Awards: “Gerilya” karya Yovan Arya Nugraha (Bogor)
- Most Popular AI Microfilm: “Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81” karya Indrawan Agung (Bekasi)
- Special Selection Award: “DARI TANAH UNTUK INDONESIA” karya Adams Taufik (Bandung)
- Jury’s Special Mention: “Hutang Toko Budi” karya I Gede Wahyu Diatmika (Bali)
- Next Icon Award: “Baleo” karya Cahyadi Widianto (Banten)
Melalui paduan antara visi kreatif manusia dan kecanggihan teknologi AI, CapCut AI Content Fest 2026 membuktikan bahwa masa depan industri seni film Indonesia kini semakin terbuka bagi siapa saja yang berani bercerita.


