TEKNOBUZZ – Lanskap digital dunia tengah mengalami pergeseran masif. Jika selama ini aktivitas mengunduh (download) mendominasi penggunaan internet, kini era baru telah tiba di mana trafik unggahan (upload/uplink) tumbuh jauh lebih pesat. Fenomena ini menjadi salah satu temuan utama dalam Ericsson Mobility Report (EMR) edisi Juni 2026 yang baru saja dirilis.
Laporan tersebut mencatat momentum luar biasa di mana total jumlah pengguna atau langganan 5G global resmi melampaui angka 3,1 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini diproyeksikan akan melonjak lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh 6,4 miliar pada akhir tahun 2031.
Mengapa tren internet global ini berubah, dan apa dampaknya bagi kesiapan digital Indonesia? Berikut ulasan lengkapnya.
Mengapa Trafik Upload Kini Tumbuh Lebih Cepat?
Berdasarkan pengukuran trafik jaringan yang dilakukan oleh Ericsson terhadap 55 penyedia layanan komunikasi di seluruh dunia, sebanyak 43 operator melaporkan tingkat pertumbuhan uplink yang melampaui downlink. Bahkan, 17 di antaranya mencatat lonjakan uplink hingga lebih dari 1,5 kali lipat.
Perubahan perilaku digital ini dipicu oleh tiga faktor utama:
- Aplikasi Komunikasi dan Kolaborasi: Penggunaan platform video conference yang intensif untuk kerja dan belajar jarak jauh.
- Konten User-Generated: Masifnya kebiasaan pengguna mengunggah video berkualitas tinggi ke media sosial.
- Layanan Penyimpanan Cloud: Sinkronisasi data otomatis ke cloud storage yang kian menjadi kebutuhan harian.
Menariknya, Ericsson memproyeksikan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang kian terdistribusi di berbagai perangkat akan membuat trafik uplink melonjak hingga tiga kali lipat atau lebih pada tahun 2031 dibandingkan tahun 2025.
Solusi Geografis Indonesia: Peluang Besar 5G FWA
Di tingkat regional, jumlah pelanggan 5G di kawasan Asia Tenggara dan Oseania diperkirakan akan tumbuh pesat mencapai 670 juta pada tahun 2031. Bagi Indonesia, laporan ini membawa angin segar sekaligus solusi konkret melalui teknologi Fixed Wireless Access (FWA) berbasis kecepatan.
Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia, menekankan bahwa teknologi jaringan saat ini akan menjadi fondasi transformasi berbasis AI di masa depan. Oleh karena itu, infrastruktur 5G perlu dipandang secara strategis.
“5G perlu dipandang sebagai infrastruktur nasional yang strategis, yang didukung oleh kebijakan jangka panjang, koordinasi lintas sektor, serta standar keamanan berkelas dunia,” ujar Nora Wahby.
Sebagai negara kepulauan yang memiliki tantangan geografis serupa dengan Filipina, Indonesia dinilai memiliki peluang emas untuk mengadopsi 5G FWA guna menjangkau area-area yang belum optimal terjangkau oleh jaringan kabel serat optik (fiber).
Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, menambahkan bahwa keberlanjutan ekonomi digital nasional juga sangat bertumpu pada ekosistem industri yang sehat.
“Ketersediaan spektrum yang memadai dan terjangkau akan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transformasi digital nasional dan mewujudkan visi Indonesia Digital 2045,” jelas Ronni.
Lompatan Jaringan: Dari 5G Standalone Menuju Era 6G
Hingga saat ini, sekitar 390 operator di dunia telah meluncurkan layanan 5G komersial, dengan lebih dari 90 di antaranya menerapkan jaringan 5G Standalone (5G SA). Jaringan komersial berbasis 5G SA network slicing—yang memungkinkan operator menjamin kualitas layanan khusus untuk berbagai kebutuhan—juga meningkat tajam menjadi 84 penawaran pada Juni 2026.
Diperkirakan, jaringan 5G akan mengelola hingga 85 persen dari total trafik data seluler global pada tahun 2031.
Tak berhenti di 5G, industri telekomunikasi global kini mulai mengalihkan fokus pada standardisasi teknologi 6G. Jaringan masa depan ini digadang-gadang mampu mengintegrasikan jaringan darat (terestrial) dan satelit secara mulus, serta menghadirkan efisiensi energi berbasis AI yang lebih tinggi.
Spesifikasi awal 6G ditargetkan rampung pada akhir 2028 atau awal 2029, dengan komersialisasi perdana diprediksi siap menyapa dunia sekitar tahun 2030.


