15.6 C
New York
Sunday, May 31, 2026

Buy now

Blockchain dan Web3 Bakal Merevolusi Transaksi Properti

TEKNOBUZZ – Perkembangan pesat teknologi blockchain dan Web3 diprediksi akan membawa revolusi signifikan pada sektor properti global, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Para pemimpin bisnis yang berkumpul dalam forum tahunan internasional World Trade Center Association (WTCA) Global Business Forum (GBF) ke-55 di Marseille, Prancis, menyoroti adopsi teknologi sebagai kunci untuk menjaga daya saing di tengah lanskap pasar yang terus berubah.

Forum yang diselenggarakan oleh World Trade Center (WTC) Marseille Provence pada 6–9 April 2025 ini berhasil menarik lebih dari 400 peserta dari 50 negara, termasuk hampir 120 pelaku bisnis jaringan WTC.

Dalam sesi Real Estate Summit, para pakar global tidak hanya membahas inovasi teknologi, tetapi juga menekankan pentingnya infrastruktur berkelanjutan dan inovasi energi sebagai pilar masa depan sektor properti.

Katalis Perubahan

Lia Rochat, Founder and CEO Archismart Solar (Prancis), dalam sesi “Real Estate Investment in Global Trade Hubs”, menegaskan bahwa mengadopsi solusi teknologi inovatif sangat krusial untuk tetap kompetitif.

“Blockchain dan Web3 akan menjadi game changer. Teknologi ini akan membantu transaksi di dunia properti jadi lebih cepat, transparan, dan terdesentralisasi tanpa perantara seperti bank atau broker,” ujar Rochat.

Lebih lanjut, Rochat menjelaskan bahwa Web3, generasi internet berbasis blockchain, memungkinkan tokenisasi aset. Ini berarti aset fisik seperti properti dapat diubah menjadi token digital yang dapat diperdagangkan.

“Ini akan mengubah cara kita mengembangkan dan membiayai proyek properti,” tambahnya, membuka peluang baru untuk investasi dan kepemilikan properti.

Potensi di Indonesia

Adopsi teknologi ini juga mulai menunjukkan geliatnya di Indonesia. Salah satu pionir adalah Bank Tabungan Negara (BTN), yang tengah mengembangkan produk tokenisasi properti melalui skema Dana Investasi Real Estat (DIRE) berbasis blockchain. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memanfaatkan inovasi untuk mendorong pertumbuhan sektor properti.

Scott Wang, Wakil Presiden WTCA Asia Pasifik, optimis terhadap potensi Indonesia. “Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin tokenisasi di kawasan. Kami mendorong pelaku usaha dan institusi keuangan untuk mengadopsi teknologi ini guna menciptakan ekosistem industri yang lebih inklusif,” kata Wang.

Tokenisasi dinilai sebagai strategi pembiayaan baru yang sangat menjanjikan untuk mendukung program prioritas Presiden Prabowo, yaitu program pembangunan tiga juta rumah per tahun.

Dengan teknologi ini, properti dapat dipecah dalam unit kecil yang terjangkau oleh investor ritel, sehingga mendorong inklusi keuangan dan memperdalam pasar modal. Laporan Project Wira (BRI Ventures, Saison Capital, D3 Labs, Tiger Research) bahkan memproyeksikan nilai pasar tokenisasi aset di Indonesia mencapai USD88 miliar (sekitar Rp1.390 triliun) pada tahun 2030.

Hingga kini, empat entitas di Indonesia telah melakukan tokenisasi aset dunia nyata (RWA), termasuk properti, melalui mekanisme regulatory sandbox OJK. Ini merupakan langkah awal yang penting menuju regulasi penawaran aset kripto yang lebih luas di masa depan.

Penerapan Global

Inovasi-inovasi ini telah diterapkan dalam jaringan WTCA secara global. Diego Cortese, Vice President – Venue Commercial di Dubai World Trade Center (DWTC), melaporkan bahwa DWTC baru-baru ini bekerja sama dengan Otoritas Regulasi Aset Virtual untuk mengatur aset digital, serta menandatangani kesepakatan dengan Departemen Pertanahan Dubai untuk menerapkan tokenisasi dalam transaksi real estat.

Ini menunjukkan bahwa adopsi blockchain dan tokenisasi di sektor properti bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi kenyataan.

Selain blockchain dan Web3, Artificial Intelligence (AI) juga disebut sebagai gelombang besar berikutnya di industri properti. Dalam Real Estate Summit yang sama, Editor fDi Intelligence, Jacopo Dettoni, menekankan bahwa kesiapan menghadapi gelombang AI akan sangat menentukan keberhasilan para pelaku industri.

Baca juga: Consensys Ungkap Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Hal Pemberdayaan Internet

Ia juga mencatat adanya pergeseran arus investasi asing (FDI) dari sektor perkantoran ke jenis properti lain seperti hunian, kawasan industri, pusat data, dan fasilitas life science (laboratorium, klinik). Permintaan pusat data, khususnya, kini menyebar ke kota-kota tier dua karena efisiensi biaya.

Dengan demikian, konvergensi teknologi blockchain, Web3, dan AI diperkirakan akan mengubah fundamental cara kerja industri properti, menjadikannya lebih efisien, transparan, dan inklusif di masa depan.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles