20.3 C
New York
Friday, April 17, 2026

Buy now

Waspada! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Jadi Celah Penyalahgunaan Data 

TEKNOBUZZ – Di tengah pesatnya digitalisasi, risiko kebocoran data pribadi semakin nyata, tidak hanya di tingkat institusi, tetapi juga berawal dari kebiasaan sehari-hari yang kerap luput disadari.

Data pribadi yang bocor rentan disalahgunakan dalam berbagai modus yang kerap menghiasi pemberitaan, mulai dari pendaftaran pinjaman online tanpa sepengetahuan pemilik data hingga hilangnya saldo dalam rekening bank secara tiba-tiba.

Kondisi ini menjadi pengingat kuat bagi VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention terdepan di Indonesia, bahwa upaya perlindungan data harus dimulai dari akar permasalahan, yakni kesadaran individu.

“Sebagian besar kebocoran data tidak hanya disebabkan oleh celah sistem, tetapi juga oleh kelalaian individu. Tanpa disadari, kebiasaan sederhana dapat membuka risiko penyalahgunaan data,” ujar Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA.

Niki menyoroti bahaya penggunaan dokumen pribadi, seperti fotokopi KTP, Kartu Keluarga, ijazah, dan dokumen pribadi lainnya sebagai pembungkus makanan seperti yang banyak dilakukan penjual makanan di pinggir jalan.

Praktik yang kerap dianggap sepele ini berpotensi menjadi celah penyalahgunaan data apabila dokumen tersebut jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.

Untuk membangun kesadaran kolektif dan mendorong perubahan perilaku secara berkelanjutan agar data pribadi senantiasa terlindungi, VIDA menghadirkan kolaborasi bertajuk “Tukang Gorengan Jadi Tahu”, dengan menggandeng penjual gorengan sebagai simbol keseharian masyarakat.

Melalui kampanye ini, masyarakat dapat mengunjungi rangkaian aktivasi #VIDAJagaKalian di kawasan MRT Dukuh Atas pada 22–25 Januari 2026. Pengunjung dapat menikmati aneka gorengan khas Indonesia secara gratis dengan mengikuti pengalaman edukatif interaktif mengenai pentingnya menjaga data pribadi.

Selain itu, pengunjung juga dapat mengenal lebih dekat berbagai solusi VIDA dalam melindungi identitas digital dari risiko penipuan.

“Edukasi akan lebih efektif jika dekat dengan realitas masyarakat. Kami memilih pendekatan yang membumi agar pesan perlindungan data tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan. Harapannya, langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membangun budaya menjaga data pribadi dalam jangka panjang,” pungkas Niki.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles