TEKNOBUZZ – Seri flagship terbaru dari Vivo, yaitu X300 Pro yang diluncurkan secara global pada Oktober lalu mengandalkan segmen fotografi dan performa chipset kelas atas. Ponsel ini sukses memukau pasar dengan spesifikasi kamera yang disempurnakan berkat kemitraan ZEISS dan chipset bertenaga (misalnya, Dimensity 9500).
Namun, ulasan teknis mendalam dan serangkaian pengujian di berbagai media teknologi online, seperti GSMArena, PhoneArena, Bizz Buzz Review, Can Buy or Not dan lainnya mengungkap kelemahan signifikan. Salah satunya manajemen termal yang kurang optimal, yang menyebabkan perangkat mengalami throttling atau penurunan kinerja drastis.
Overheat Menurunkan Performa
Isu utama datang dari pengujian beban kerja berat (stress test) yang dilakukan oleh pengulas global. Situs-situs gadget seperti PhoneArena dan Can Buy or Not melaporkan bahwa, meskipun Vivo X300 mencetak skor awal yang sangat tinggi, performa tersebut tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama.
Dalam pengujian 3DMark Wild Life Extreme, X300 Pro dilaporkan mengalami penurunan kinerja hingga 57%. Hal ini berarti, setelah 15-20 menit bermain game berat atau merekam video 8K, smartphone akan secara otomatis menurunkan kecepatan CPU dan GPU untuk mendinginkan diri, yang berdampak langsung pada frame rate yang turun dan pengalaman bermain game yang kurang lancar (lag).
Setelah dilakukan uji performa seperti uji benchmark dan gaming non stop, X300 Pro terasa sangat panas (overheat). “Panas yang terasa dan throttling adalah konsekuensi yang harus diterima dari sesi gaming yang berlarut-larut,” ujar salah seorang reviewer gadget.
Keluhan ini semakin diperkuat pada model Vivo X300 standar yang didesain lebih kompak, di mana ruang pembuangan panas lebih terbatas. Sehinga menjadikannya kurang ideal bagi hardcore gamer.
Throttling sendiri merupakan penurunan performa gadget, seperti smartphone saat mengalami overheat. Suhu tinggi tersebut bisa terjadi karena prosesor atau komponen smartphone lainnya menerima beban kerja yang tinggi.
Hasil Foto Kurang Natural
Selain masalah panas, flagship ini juga menghadapi kritik di area yang seharusnya menjadi keunggulannya, yaitu pemrosesan gambar. Meskipun hardware kamera Vivo X300 sangat canggih, pengulas di forum dan platform seperti Reddit mengkritik software pemrosesan gambar Vivo yang dinilai terlalu agresif. Sistem software dan AI, yang bertugas mengurangi noise dan meningkatkan warna, sering kali berlebihan.
Efeknya, foto otomatis yang dihasilkan terlihat terlalu halus (overly smooth) dan kehilangan detail tekstur yang natural, seperti kulit atau serat kain, sehingga terkesan seperti lukisan cat minyak daripada foto realistis.
Speaker dan Baterai Kurang Maksimal
Keluhan minor lainnya yang disoroti adalah kualitas audio dan daya tahan baterai. Ulasan menganggap kualitas stereo speaker Vivo X300 berada pada tingkat rata-rata dan tidak mencerminkan label flagship yang dibawa ponsel ini, tertinggal dari pesaing utamanya.
Baca juga: Akhirnya, vivo X300 Series Tiba di Indonesia
Selain itu, meskipun baterai memiliki kapasitas besar (misalnya 6510 mAh) dan fast charging kencang (90W), daya tahan baterai secara keseluruhan (endurance rating) dinilai biasa saja, tidak mampu menandingi efisiensi beberapa flagship kompetitor.
Vivo X300 menawarkan paket lengkap, dalam sebuah smartphone flagship yang menarik dengan desain menawan dan kamera unggul. Namun, throttling yang terjadi setelah pengujian performa, hasil foto yang kurang natural, serta kualitas speaker yang standar, membuat beberapa pengamat dan reviewer gadget secara global, menyarankan calon pembeli untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini, terutama jika mereka mencari smartphone yang memang sanggup bermain game berat dalam waktu lama.


